Rabu, 15 Desember 2010

TOKOH BETAWI PROTES SINETRON YANG LECEHKAN BUDAYA BETAWI

TOKOH BETAWI PROTES SINETRON YANG LECEHKAN BUDAYANYA

Depok -- Pemimpin Lembaga Kebudayaan Betawi dan tokoh masyarakat harus memprotes stasiun televisi yang menayangkan sinetron yang melecehkan budaya Betawi. Permintaan itu disampaikan Ali Shahab dalam seminar bertema "Betawi dan Jakarta: Tinjauan Budaya" yang diadakan di kampus Universitas Indonesia kemarin. Menurut Ali, sutradara film dan sinetron, LKB harus proaktif dan segera meminta stasiun televisi menghentikan tayangan tersebut.

Ali Shahab yang menjadi Ketua Betawi Intellectual Network menyebut sejumlah sinetron yang masuk kategori di atas, antara lain Kecil-kecil Jadi Manten (RCTI), Norak tapi Beken (SCTV), dan Bajaj Bajuri (Trans TV). Dia mengaku risi dengan peran yang dimainkan Sukma Ayu dalam Kecil-kecil Jadi Manten, sebagai perawan Betawi yang menggunduli kepalanya. "Apalagi perawan ini diceritakan tekdung (hamil) di luar nikah akibat pergaulannya dengan pacarnya yang banci," katanya.

Lalu, dalam sinetron Norak tapi Beken, peran Malih Tong Tong digambarkan bukan hanya menempatkan istri tua dan istri muda dalam satu rumah, tapi juga tidur dalam satu ranjang. "Ini hal yang tidak pernah dilakukan orang Betawi yang punya akhlak," kata Shahab yang menyutradarai sinetron Nyai Dasima itu. Sementara itu, dalam Bajaj Bajuri, Mat Solar memerankan Bajuri, tukang bajaj yang mandul dengan jumlah sperma yang tidak memadai untuk membuahi ovum Oneng, istrinya. Oneng digambarkan sebagai istri yang bodoh, sedangkan mertua Bajuri yang diperankan Nani Wijaya, digambarkan sebagai orang yang otoriter, egois, serakah, mata duitan, dan gila TV.

Belakangan, kata Shahab, setelah mendapat rating yang tinggi dari AC Nielsen, Bajaj Bajuri diputar secara stripping sepanjang minggu. Dia menyayangkan komedi yang awalnya jadi hiburan keluarga ini sudah kehilangan arah. Hampir tiap episode selalu bicara soal obat kuat, bisnis alat vital Mak Erot. "Sekarang pemirsa yang menonton bareng anaknya menjadi jengah mendengar istilah-istilah miring yang diucapkan Bajuri," kata Shahab, yang pendapatnya ini disetujui banyak peserta seminar.

Ali Shahab juga melihat diskriminasi kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap kesenian Betawi sejak dasawarsa 1980-an. Hal itu misalnya terlihat dengan fasilitas yang diberikan untuk "Aneka Ria Srimulat" di Taman Ismail Marzuki dan Taman Ria Remaja Senayan. "Ada semacam gerakan bawah tanah berupa 'JAWANISASI BUDAYA' yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Jawa di pemerintahan Orba," kata Shabab yang membawakan makalah berjudul "Orang Betawi: Digusur di Kampung, Dilecehkan di Te

Tidak ada komentar: