Rabu, 15 Desember 2010

Menteng Sebuah Sub Kultur

Menteng Sebuah Sub Kultur
Oleh Ridwan Saidi

Mentengbuurt dibangun tahun 1920 oleh developer N.V. Kondang Dia, kemudian hari dipakai menjadi nama kampung Gondangdia. Bangunan mewah didirikan dengan batas selatan Dukuh Sawah (kini Jl. Kendal), sebelah barat Kampung Lima (kini Jl. Sabang), sebelah timur kampung Kali Pasir, Raden Saleh, dan Gang Ampiun, dan sebelah utara tanah lapang Gambir. Fasilitas umum dan sosial dibangun untuk melayani kepentingan penduduk, dua stasiun KA didirikan dengan jarak berdekatan yaitu Pegangsaan/Cikini dan Boplo (Boumploeg), di samping stasoin sentral Gambir yang sudah berdiri sebelumnya. Fasilitas olahraganya adalah lapangan bola Vios dan kolam renang Cikini.

Tiga gedung bioskop melayani keperluan penduduk akan hiburan, dua buah di kompleks Kebon Binatang Cikini yaitu Garden Hall dan Podium. Podium memutar film-film lama dengan teks bahasa Belanda. Pada beranda gedung bioskop terdapat bar yang dilengkapi dengan musik kamar (chombers orchestra). Bioskop yang ketiga adalah Menteng yang lokasinya bersebelahan dengan lapangan Vios. Sedangkan kompleks pertokoan ekskutif berdiri di sepanjang Jl. Sabang, Cikini, dan sekitar bioskop Menteng.

Penghuni Mentengbuurt adalah orang Belanda, baik swasta maupun pegawai tinggi Gemeente. Mereka adalah elit Batavia awal abad ke-20. Kendati di lingkungan Belanda sendiri mereka tergolong amat eksklusif. Rumah-rumah dansa paling elit seperti Societet Harmonie dan Hotel Des Indes diramaikan oleh orang-orang Menteng. Menteng menandai perubahan jaman di Hindia Belanda pasca PD I. Memiliki landhuizen (villa) yang merupakan ciri elit kolonial abad 18-19 sudah menjadi album kenangan. Eropa yang berubah pasca perang, cipratannya sampai juga di Batavia.

Belanda Totok, Belanda Kemayoran, Belanda Depok

Belanda totok adalah bule sejati, darahnya tidak bercampur dengan lain-lain orang. Belanda Kemayoran adalah Belanda pembauran. Mereka memiliki darah inlander. Hal ini berpengaruh pada gaya hidup dan pola pergaulan mereka. Gaya hidupnya tidak eksklusif, dan mereka pun bergaul secara luas baik dengan inlander maupun keturunan Tionghoa.

Zegt, Pe’, gua lagi boke, linen ik ce toen lah. Pastilah gaya bicara serupa ini tidak akan beredar di Mentengbuurt. Gaya Belanda Kemayoran ini kampungan belaka dimata orang Menteng. Dan sebutan Belanda Kemayoran ini sinonim dengan Indo, meski pun Indo tinggal di Sao Besar atau Petojo, tetap saja disebut Belanda Kemayoran. Dari analisa kelas, maka Belanda Totok di Menteng itu berbeda statusnya dengan Belanda Kemayoran. Begitu pun pola konsumsinya.

Belanda Depok adalah bukan Belanda. Mereka adalah pekerja onderneming Belanda di Cimanggis yang direkrut pada abad ke-18. Mereka yang dulu disebut budak ini didatangkan pemilik onderneming dari India Selatan dan kepulauan Sunda Kecil. Mereka menguasai sepotong dua potong perkataan Belanda. Sedikit atau banyak gaya hidup. Belanda petinggi onderneming menular pada diri mereka. Misalnya, Belanda Depok itu pantang bepergian ke luar rumah dengan sandalan saja. Penampilan Belanda Depok selalu rapi. Penampilan Belanda Depok berbeda memang dengan penduduk asli yang telah mendiami kawasan ini paling sedikit sejak 5000 SM.

Milik RI

Ketika Jepang datang tahun 1942, banyak Belanda totok di Menteng yang digiring ke kamp interniran. Rumah-rumah di Menteng sebagian kosong, sebagian dihuni pembesar Jepang. Namun Menteng tetap Menteng, aura gaya hidup eksklusif tidak ikut masuk ke kamp interniran. Meski sebagian besar bioskop di Jakarta ditutup pemerintah militer Jepang, namun 3 bioskop di Menteng tetap dibuka, begitu pun bar di bioskop Podium. Pembesar Jepang yang menjadi “bujangan lokal” itu suka mabuk-mabukan dan “doyan perempuan”.

Di jaman revolusi, Menteng terlibat. Rapat-rapat persiapan kemerdekaan dilangsungkan di Jl. Imam Bonjol, dan kemerdekaan sendiri dicetuskan di Jl. Pegangsaan yang terbilang Mentengbuurt. Pada jaman ini gaya hidup extravaganza terhenti.

Ketika revolusi fisik berakhir dengan diakuinya kedaulatan RI oleh Belanda, maka rumah-rumah di Menteng berganti pemilik lewat suatu proses yang revolusioner. Banyak rumah pemerintahan dan pentolan revolusi masuk Menteng. Di jaman ini kantor Urusan Perumahan Djakarta (UPD) bukan main sibuknya mengeluarkan VB (izin menempati), atau mengubah VB menjadi dokumen kepemilikan. Tidak sedikit pula VB yang berpindah tangan. Hingga akhirnya di tahun 1950 muncul peta demografi Menteng yang baru. Di Menteng ada mantan Belanda totok yang sudah menjadi Indo, ada elit rupa-rupa suku bangsa, dan ada pula kaum keturunan baik profesional mau pun politisi yang sukses.

Dasar Menteng, tetap saja gaya hidupnya tidak berubah. Peta demografi yang baru hasil revolusi itu tetap mempertahankan Menteng sebagai sebuah sub kultur yang elitis dengan menghamburkan aroma snobisme.

Tidak banyak lagu yang menggambarkan gaya hidup Menteng. Lagu Kisah Malam di Jalan Lembang karya Saleh Suwita bercerita tentang kawasan Jalan Lembang, yang mempunyai situ, dimana muda-mudi non Menteng kalau malam berasyik ma’syuk. Sebuah lagu pop yang muncul tahun 1958 berjudul Babu Menteng bercerita tentang babu-babu yang mengalami gegar budaya (cultural schok) lantas meniru attitude majikannya. Tendensi babu Menteng tahun 1950-an s/d 1960-an itu sekarang pun dapat dijumpai di Pondok Indah, Kemang, Pluit.

Barangkali film awal tahun 1950-an Antara Bumi Dan Langit rada sempurna menggambarkan kesenjangan budaya dan politik antara Mentengbuurt dan kawasan di luarnya. Seorang pemuda pejuang non Menteng menjalin asmara dengan pemudi Indo Menteng, keruan romantisme ini berujung pada jalan buntu. Film Juara Sepatu Roda yang dibintangi Indriati Iskak serta Tiga Dara dengan bintang Baby Huwae, Lientje Tambayong, dan Gaby Mambo produksi sekitar tahun 1960 menjadi potret snobisme Menteng. Bahkan sepatu roda itu sendiri, di luar film, merupakan symbol perubahan status sosial.

Menteng merupakan jendela untuk melongok Westernisme. Anak-anak menteng lebih dulu memakai blue jeans, jaket merah, dan jambul doyong ke kanan ketika film Rebel Without Cause-nya James Dean mencapai box office di sejumlah bioskop ibukota tahun 1957. Ketika datang Elvis Presley mengguncang muda-mudi mancanegara, Menteng pun menjadi pelopor gaya Raja Rock & Roll itu.

Rumah-rumah di Menteng sampai dengan bulan Oktober 1965 masih diwarnai dengan pesta dansa entah itu urusan jaarig, atau gengsot rutin belaka. Sehari-hari pun gramophone dari rumah-rumah di Menteng menghamburkan lagu-lagu Perry Como, Pattie Page, atau instrumental Glenn Miller ditingkah alunan irama Lautan Teduh Orkes Hawaiian Suara Istana pimpinan Tjok de Fretes. Dan kap salon masuk rumah pun di awali dari Menteng.

Di jaman Orde Lama Menteng tidak kehilangan charisma, karena banyak artis dan pagar ayu bhineka tunggal ika yang menyemarakkan kehadiran Pembesar Revolusi Bung Karno bertempat tinggal di Menteng. Bahkan putra-putri pembesar Orde Lama juga mendirikan band yang memainkan, meminjam istilah Bung Karno, lagu-lagu ngak-ngik-ngok.

Teror PKI

Tetapi Menteng bukan cuma snobisme, namun juga sentra pemikiran kaum intelektual. Balai Budaya sejak tahun 1958 tersohor sebagai tempat berkumpulnya pelukis kondang, budayawan, dan intelektual. Majalah Indonesia yang terbit dari gedung ini merupakan trend intelektual ketika itu. Menteng juga punya restoran Geliga tempat para seniman film dan musik berkumpul berbual-bual.

Menteng juga merupakan pemukiman politikus berkaliber seperti Sutan Syahrir, Mohamma Roem, Mohammad Natsir, Ruslan Abulgani, Prawoto Mangkusasmito, Subchan ZE. Maka tidak heran ketika PKI merajalela, jalan-jalan di Menteng sering mencekam karena PKI melancarkan terror ke rumah-rumah tokoh Masyumi dan PSI yang tinggal di Menteng. Bahkan Menteng sempat berdarah ketika Gestapu/PKI tahun 1965 membunuh Jendral Ahmad Yani, Pierre Tendean, pengawal A.H. Nasution, dan Ade Irma Nasution. Dan Menteng pun menjadi markas organisasi-organisasi mahasiswa penggerak Orde Baru seperti HMI, PMKRI, dan IMADA.

Sandhyakala Ning Mentheng

Tahun 1970 Menteng memasuki senja kala, meski sejak saat itu Jalan Surabaya menjadi sangat terkenal karena menjadi pasar barang-barang antik. Namun dibukanya pemukiman mewah yang baru seperti Simprug, Kemang, Permata Hijau, dan Pondok Indah membuat kharisma Menteng sebagai sentra sub kultur elitis memudar. Apalagi di pemukiman baru itu banyak warga asing bertempat tinggal, maka daerah-daerah itu berubah menjadi sepotong Paris di Jakarta.

Kini yang eye-catcher di Menteng adalah rumah mantan Presiden Suharto di Jalan Cendana, panti pijat Jalan Blora (sampai medio 1970-an), dan sop kambing Jalan Kendal (sampai tahun 1980-an). Sementara itu bangunan lama di Menteng yang merupakan peninggalan arsitektur Indisch, meski pun dilindungi ordonansi, satu persatu dirubah bentuk. Termasuk bangunan yang menjadi kantor imigrasi sempat digasak kusen-kusen dan daun pintunya oleh putera Suharto.

Menteng kini merupakan salah satu sentra kegiatan politik yang paling penting, pendemo hilir mudik di kawasan Menteng entah itu ke Komnas HAM atau ke rumah Suharto, atau kumpul di LBH. Politikus juga hilir mudik di Menteng entah untuk rapat penting PPP, atau silaturahmi ke kantor (sementara) P.B. NU (sampai Agustus 2001), atau menghadiri diskusi KAHMI, atau beraudiensi ke kediaman Wapres.

Sebagai idiom dalam pergaulan sosial, Menteng tak lagi disebut orang. Beriringan dengan itu kampung-kampung enclave Menteng seperti Menteng Pulo, Menteng Wadas dan Menteng Rawa Jelawe telah sirna diterkam developer. Daag, Menteng!!!

Tidak ada komentar: