Rabu, 15 Desember 2010

PEMERINTAH.Jangan Lupakan Betawi

Jangan Lupakan Betawi
Pada peringatan Maulid Nabi di Jakarta Islamic Centre (JIC) hari Senin, 9 Maret 2009, dalam sambutannya, dr. H. Djailani selaku kepala BP JIC menyampaikan kerisauannya terhadap banyaknya penulisan sejarah Islam di Indonesia yang tidak mengangkat Betawi. Beliau mencontohkan buku berjudul Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara yang merupakan kumpulan tulisan dari para sejarahwan dan cendikiawan muslim terkemuka di Indonesia. Di buku tersebut, tidak satu pun dari penulis yang mengulas tentang sejarah dan perkembangan Islam di Betawi dan pengaruhnya dalam pembentukan Indonesia modern.
Ketiadaan ini bisa dimaklumi karena mungkin data yang dimiliki oleh para penulis tersebut sangat minim atau memang refrensi tentang Islam di Betawi yang beredar masih sangat sedikit dan kurang layak untuk dijadikan rujukan oleh mereka. Padaha tempat di mana etnis Betawi tinggal, Sunda Kelapa atau Batavia, merupakan sentra pemerintahan kolonial di Indonesia, tempat di mana sebagian besar sejarah bangsa ini diukir sampai hari ini. Bahkan menurut Ridwan Saidi pada acara Halaqah Betawi Corner yang diselenggarakan di JIC , orang Betawi lah, yaitu Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin (abad ke-14), yang memperkenalkan bendera merah putih, bendera negara Indonesia sekarang ini. Dalam melawan penjajah, orang Betawi sangat gigih, sejak zaman JP Coen sampai zaman pra kemerdekaan. Kisah si Pitung dan Entong Gendut begitu melegenda. Bahkan tidak sedikit ulama Betawi yang terlibat dalam revolusi fisik 1945, sebut saja Guru Thabrani (Paseban), Guru Manshur (Jembatan Lima), Kyai Rahmatullah Sidik (Kebayoran) Kyai Syam’um ( Kampung Mauk), Muhammad Ali Alhamidi ( Matraman ) dan KH. Noer Alie (Bekasi) yang atas jasanya telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Muhammad Al Alhamidi menjadi imam dan khatib shalat Idul Fithri tahun 1945 di Jl. Pegangsaan di bawah kepungan bala tentara Dai Nippon. Guru Manshur Jembatan Lima memasang Merah Putih di atas menara masjid Jembatan Lima. Dan tidak mau menurunkan bendera Merah Putih walau tentara Belanda memberondong menara masjid dengan peluru. Bahkan Guru Manshur berseru kepada penduduk, ”Betawi, Rempug !”, orang Betawi soliderlah!. Sebagian mereka bukan hanya pejuang, tetapi juga intelektual. Masih menurut Ridwan Saidi, Muhammad Ali Alhamidi pernah berguru pada Habib Ali Kwitang. Beliau penulis produktif. Beliau mempunyai jasa besar menulis naskah khutbah Jum’at dalam huruf Arab bahasa Melayu sejak tahun 1946 hingga akhir hayatnya pada akhir tahun 1980-an. Ali Alhamidi sering keluar masuk penjara. di dalam penjara pun ia menulis naskah khutbah. Ia menulis buku yang jumlahnya tidak diketahui, yang diketahui antara lain Godaan Syetan, Wahyu Mimbar, dan Pernikahan dalam Islam. Guru Manshur lahir tahun 1880-an dan wafat tahun 1967. Ia ulama falaq yang menulis 19 kitab antara lain : kitab Hisab, Ijtima dan Gerhana, dan Sullam An-Nayyirain. Kitab terakhir ini begitu terkenal dan digunakan sebagai rujukan untuk mempelajari ilmu falak di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia dan beberapa lembaga pendidikan Islam di Malaysia sampai hari ini. Pada awal kemerdekaan Muhammad Syah Syafii, Pasar Baru, Menulis kitab Hadyur Rasul. Tidak diketahui apakah itu satu-satunya karya tulisnya atau ada yang lain.
Jika dirunut ke belakang lagi, Ulama atau orang Betawi terdahulu lainnya yang memiliki karya besar juga cukup banyak. Misalnya putera Guru Safiyan atau Guru Cit, Muhammad Bakir dan Achmad Beramka, keponakannya, adalah pengarang yang amat terkenal. Keduanya menulis pada tahun 1880-an hingga 1910-an. Dari 30 karya Muhammad Bakir dua diantaranya yaitu Hikayat Anak Pengajian dan Hikayat Syekh Kadir Jaelani Achmad Beramka menulis karangan dalam jumlah yang sama dengan Muhammad Bakir. Karya-karya mereka sebagian besar tersimpan di Leningrad, London, Inggris dan Leiden, Belanda. Cing Sa’dullah adalah pengarang yang menulis sejak pertengahan abad ke-19. Meskipun ia menulis buku-buku kesusastraan tetapi tetap bernafaskan Islam.
Setelah kemerdekaan, memang penulisan kitab-kitab agama oleh ulama tidak seramai pada era sebelumnya. Ledakan karya ulama intelektual Betawi terjadi pada pertengahan abad ke-19 hingga dasawarsa pertama abad ke-20. Hal ini, masih menurut Ridwan Saidi, kemungkinan besar disebabkan sulitnya mendapatkan kitab-kitab agama dari Timur Tengah. Pemasok kitab-kitab agama di masa itu dari Timur Tengah yang dapat diketahui hanya Guru Mujtaba.
Setelah kemerdekaan tidak terlalu sulit lagi mendapatkan kitab-kitab dari Timur Tengah dibanding sebelumnya. Tetapi ini salah satu faktor saja. Tentu ada faktor-faktor lain yang menyebabkan menurunnya karya tulis ulama Betawi. Walaupun demikin, kitab-kitab yang dikarang oleh ulama Betawi pasca kemerdekaan ini sangat berkualitas. Sebagai contoh adalah kitab Mishbah Adz-Dzullaam karya Syaikh KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Bulughul Maram karya al-Hafizh lbnu Hajar al-'Asqolani yang merupakan kumpulan hadits yang banyak dijadikan istinbath hukum fikih oleh para fuqaha yang disertai keterangan derajat kekuatan hadits. Jika kitab Bulughul Maram hanya satu jilid, kitab syarah ini terdiri atas delapan jilid yang ditulis dalam bahasa Arab tanpa harakat yang sampai saat ini belum diterjemahkan dan masih dijadikan kitab kajian beberapa majelis taklim di Jakarta dan di luar Jakarta. Kitab lainnya adalah Taudhih al-Adillah karya mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab yang ditulis dalam bahasa Indonesia ini merupakan kitab fiqih yang membahas persoalan-persoalan kontemporer yang isinya tentu saja masih sangat relevan untuk dijadikan rujukan dalam memecahkan persoalan fiqih yang muncul. Yang juga sangat monumental adalah kitab Al-Imam As-Syafi`i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid karangan Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam, keturunan Guru Mughni (Kuningan, Jakarta Selatan), yang telah diterjemahkan oleh JIC dengan judul Ensiklopedia Imam Syafi`i. Kitab yang merupakan disertasi beliau dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi`i. Bahkan menurut Syaikh KH. Saifuddin Amsir, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi`i di dunia Islam yang selengkap karya Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini.
Dan dari penjelasan di atas, kita mengetahui banyak banyak karya ulama dan cendikiawan Betawi, baik yang terdahulu maupun sekarang, yang berkualitas yang sebagian besar, seperti karya-karya Muhammad Bakir dan Achmad Beramka tidak ada lagi di tanah air melainkan berada jauh nun di sana, di negara-negara Eropa, yang tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait membawanya pulang kembali, untuk ditahqiq, termasuk diterjemahkan, dan disosialisasikan sehingga menjadi bagian kekayaan khazanah Islam Indonesia. Selain karya, kita melihat juga bahwa peran mereka dalam mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan sehingga menjadi Indonesia sekarang ini juga begitu besar. Jika seperti ini, masihkah Betawi dilupakan dalam penulisan sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia?

Tidak ada komentar: