Jumat, 31 Desember 2010

Pasca Musyawarah Besar (Mubes) II Forum Komunikasi Anak Betawi

Pasca Musyawarah Besar (Mubes) II Forum Komunikasi Anak Betawi, FORKABI, melahirkan berbagai macam dinamika, kalau tidak dapat dikatakan perpecahan. Kejadian pertama yang dapat dicatat adalah pernyataan sikap tentang panolakan terhadap susunan kepengurusan yang dibentuk oleh Ketua Umum dan Formatur yang ditengarai “mencomot” sembarang orang, asal tunjuk, dan tanpa melakukan konfirmasi terhadap orang yang ditunjuk menjadi pengurus.
Selajutnya seiring berjalanannya waktu, diakui atau tidak semakin lama FORKABI semakin vakum, miskin dari kegiatan, apalagi kegiatan yang bermanfaat bagi para anggota. Kemilau FORKABI kembali tampak pada saat Kaum Betawi bersepakat untuk mendudukkan Putera Daerah menjadi Kepala Daerah DKI Jakarta. Saat itu, FORKABI menjadi perekat bagi elemen-elemen lain untuk bersatu padu memperjuangkan cita-cita tersebut.
Pada setiap kampanye, FORKABI menurunkan kader dan anggotanya ke jalan, sehingga hamper setiap sudut DKI Jakarta berwarna putih hitam, seragam baru FORKABI yang memang didisain khusus untuk kegiatan Pilkada DKI Jakarta tahun 2007.
Memasuki Pemilihan Umum Anggota Legislatif tahun 2009, tidak tampak aktivitas yang berarti dari FORKABI, yang disebabkan oleh banyaknya kader FORKABI yang mencalonkan diri menjadi anggota DPR maupun DPRD DKI Jakarta yang berlatar belakang Partai Politik berbeda, sehingga pada saat itu FORKABI ada dimana-mana (tidak bersatu/pecah).
Berbeda dengan Pemilihan Umum Anggota Legislatif, pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, FORKABI mulai menggeliat dan bersatu padu mendukung salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, yakni SBY-Boediono. Untuk mengoptimalkan dukungan tersebut FORKABI membentuk sebuah Tim Sukses, Trisula.
Dari sekian rangkaian kegiatan yang terjadi pasca Mubes II FORKABI, jelas sekali terlihat bahwa FORKABI tidak bertitik tumpu pada keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan Ketua Umum, akan tetapi semuanya bermuara kepada keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan Ketua Dewan Penasehat FORKABI, sehingga menjadikan, sekali lagi diakui atau tidak, kedudukan dan fungsi Ketua Umum tidak lebih hanya sebagai “simbol organisasi”, padahal Ketua Umum dipilih oleh peserta Mubes secara langsung, sedangkan Ketua Dewan Penasehat tidak melalui pemilihan langsung peserta Mubes.
Kondisi dimana kedudukan dan fungsi Ketua Umum hanya sebagai simbol organisasi disebabkan oleh adanya sebuah pasal dalam Anggaran Rumah Tangga Forum Komunikasi Anak Betawi tentang Tugas dan Kewenangan Dewan Penasehat, yang berbunyi bahwa dapat menonaktifkan Ketua Umum.
Entah semangat apa yang terkandung dalam pasal tersebut di atas, akan tetapi fakta berbicara bahwa pada setiap event dan kegiatan yang dilakukan oleh FORKABI pasti merupakan keputusan, prakarsa, dan atau kebijakan Ketua Dewan Penasehat.
Menyambut Musyawarah Besar III Forum Komunikasi Anak Betawi, Mubes III FORKABI, diharapkan para calon peserta Mubes untuk dapat berfikir dengan jernih sebelum memutuskan memilih calon Ketua Umum. Calon Ketua Umum yang akan datang harus dapat menggerakkan seluruh rangkaian organisasi demi terwujudnya cita-cita perjuangan FORKABI adalah merupakan sebuah keniscayaan.
Hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, oleh karenanya harus disiapkan dan dilihat secara teliti dan seksama, sehingga calon peserta Mubes tidak menjatuhkan pilihan berdasarkan kemilau pangkat dan jabatan dari sang Calon Ketua Umum, akan tetapi juga kepedulian sang Calon Ketua Umum kepada tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang akan diembannya kelak.
Hendaknya dinamika Forum Komunikasi Anak Betawi pasca Mubes II harus pula dijadikan cermin dan pengalaman yang berharga sebelum memutuskan siapa yang berhak dan pantas untuk dipilih menjadi Ketua Umum DPP FORKABI periode 2010 – 2015.

DUIT BETAWI

DUIT BETAWI
Oleh Chairil Gibran Ramadhan
WAJAH BETAWI
TAHUN 2009 ini pemerintah kita mengeluarkan uang kertas baru dalam pecahan nominal Rp. 2000. Bagus warnanya, bagus kertasnya, bagus tampilannya. Ada wajah Pangeran Antasari di bagian muka dan tarian adat Dayak di bagian belakang. Kita pun akhirnya menyadari bahwa nominal yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di negeri ini semakin tinggi saja standarnya.
Hingga awal dekade 1990-an, kita masih mengenal uang logam Rp. 50 sebagai nominal terkecil (oleh orang Cina, Betawi dan Jakarta disebut “gocap”). Waktu itu, dengan uang sejumlah itu kita masih bisa membayar untuk satu gorengan: Singkong goreng, ubi goreng, atau bakwan. Adapun uang logam Rp. 25 sudah tidak terlihat namun masih memiliki nilai bayar—minimal seharga satu buah permen dan biasanya orang membeli 2 atau 4 permen sekaligus. Sebelumnya pada awal dekade 1980-an, nominal terkecil adalah Rp. 5 dan Rp. 10 (oleh orang Cina, Betawi dan Jakarta disebut “gotun” dan “captun”), yang cukup untuk membayar selembar kerupuk dan es lilin. Bahkan pada pertengahan dekade 1970-an uang sejumlah tadi cukup untuk satu mangkuk bakso atau sepiring siomay. Pada dekade-dekade sebelumnya di negeri ini dikenal “goweng” (0,25 sen), “peser” (0,50 sen), “duwit” (0,85 sen), “sen” (1 sen), “benggol” (2,5 sen), “seteng” (3,5 sen), “kelip” (5 sen), “ketip” (10 sen), “talen” (25 sen), “suku” (50 sen), “perak” (100 sen), “ringgit” (250 sen), serta “ukon” (1000 sen) yang sama dengan 10 gulden dan terbuat dari emas.
Kini nominal-nominal itu telah menjadi bagian dari masa lalu kita.
Pada akhir dekade 2000-an ini, nominal terkecil yang kita kenal dan masih memiliki nilai bayar adalah logam Rp. 100. Paling tidak dengan uang sejumlah itu kita masih bisa menelepon satu kali di telepon umum atau membayar selembar kertas yang kita fotokopi. Nominal Rp. 50 “masih digunakan” di hypermarket, semata sebagai alat pengembalian—karena nyatanya pihak hypermarket tidak mau menerima ketika kita gunakan sebagai alat pembayaran—yang oleh kita akhirnya seringkali dibuang ke selokan, dikumpulkan di stoples kaca (mungkin untuk hiasan), atau ditaruh di kotak amal kaca dekat pintu masuk masjid.
Tentu tak lama lagi uang logam Rp. 100 pun akan tak digunakan, karena standarnya sudah beralih ke uang logam Rp. 200. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Terlepas dari masalah-masalah ekonomi, terbitnya uang kertas Rp. 2000 tadi kembali menggugah kesadaran saya yang sudah ada sejak saya mengenal uang sebagai benda yang dibawa tiap pergi ke SDN 02 Petang tempat saya sekolah di Pondok Pinang dahulu, dan utamanya saat Hari Lebaran ketika anak-anak kecil menerima uang dari para orang dewasa (waktu itu yang saya ingat uang kertas Rp. 100 bergambar badak): “Kapan uang di negeri ini menampilkan wajah Muhammad Husni Thamrin yang kadung diangkat sebagai Pahlawan Nasional, Rumah Joglo Betawi, Tari Topeng, atau hal-lain yang bernuansa Betawi? Minimal satu kali!”
CERPEN BETAWI
SAYA menaruh harapan besar pada Bang Fauzi Bowo sejak ia diangkat sebagai Gubernur DKI Jakarta, untuk bisa memperjuangkan Betawi supaya “lebih ianggep” dengan hadir di dalam uang bernuansa Betawi. Betawi saya yakin pasti bisa tampil di “media serius” semacam uang republik kita, setelah sekian lama hanya tampil sebagai bahan lelucon di layar televisi dan panggung-panggung hiburan. Muhammad Husni Thamrin jangan lagi sebatas ada di jalan raya dan jalan-jalan kampung; Rumah Joglo Betawi jangan lagi sebatas ada replikanya di plaza dan mall saat bulan Juni; Tari Topeng jangan lagi hanya ada di pertunjukan Topeng Betawi atau peringatan HUT Jakarta; dan hal-hal lain yang bernuansa Betawi jangan lagi berserakan entah di mana.
Saya pernah ditanya wartawan, apa yang mendorong saya menulis cerpen bernuansa Betawi. Jawaban saya waktu itu begini (dan jawaban itu tak akan berubah): “Awalnya lantaran setiap membuka suratkabar nasional edisi ahad yang memuat cerpen sastra, maka yang saya lihat adalah adalah cerpen-cerpen bernuansa Minang, Melayu, Jawa, Bali, atau Sunda. Lantas mana cerpen yang bernuansa Betawi?”
Terus-terang saya merasa miris dengan kenyataan tersebut. Bayangkan, betapa ironis bila suratkabar-suratkabar nasional yag terbit di Jakarta itu, berkantor di Jakarta itu, pegawai-pegawainya hidup di Jakarta itu, dan Jakarta nota-bene adalah kampungnya orang Betawi, tapi tidak pernah menampilkan cerpen bernuansa Betawi. Boro-boro ada media cetak yang berbahasa Betawi.
Saya pun sesungguhnya terlambat menyadari hal ini. Sebab pada awal karir sebagai penulis sastra, saya masih menulis cerpen-cerpen bernuansa umum—bergaya realis ataupun surealis—tanpa kekhasan nuansa daerah. Akhirnya sejak 2003 jerih-payah saya membela Betawi lewat sastra mendapat pengakuan pertama kali dari Harian Republika dan Dewan Kesenian Jakarta. Saya pun disebut sebagai “sastrawan Betawi” lewat surat kabar dan buku mereka (kiranya untuk hal ini saya menyatakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ahmadun Y. Herfanda dari Harian Republika dan Bapak Henry Ismono dari Tabloid Nova—keduanya berdarah Jawa).
MIMPI BETAWI
PERKARA tampilnya uang kita yang tak pernah bernuansa Betawi, juga membuat saya miris. Bukan kepada “apa dan siapa” yang ditampilkan, tapi kepada pihak penyelenggara negara ini.
Bayangkan, betapa ironis bila sejak republik ini berdiri dan kemudian menjadikan Jakarta sebagai ibukotanya (yang artinya juga menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi), lalu Bank Indonesia ada di Jakarta, berkantor di Jakarta, pegawai-pegawainya hidup di Jakarta, yang nota-bene adalah kampungnya orang Betawi, namun tidak pernah satu kali pun menampilkan wajah pahlawan berdarah Betawi semacam Bang Muhammad Husni Thamrin, atau Rumah Joglo Betawi, atau Tari Topeng, atau hal-hal lain yang bernuansa Betawi. Apa badak dan orang utan lebih patut diabadikan dalam uang kita daripada Muhammad Husni Thamrin atau seni-budaya Betawi sang tuan rumah?
Tulisan ini memang erat kaitannya dengan minat kedaerahan saya—yang celakanya selalu disematkan hanya kepada orang Betawi dengan alasan bahwa Jakarta adalah tempat berkumpulnya beragam etnis, tapi tidak kepada suku-suku lain ketika mereka memperjuangkan keinginannya yang berbau kedaerahan. Namun sesungguhnya tulisan ini lebih merupakan cermin untuk para penyelenggara negara supaya lebih menghargai keberadaan Betawi dan orang Betawi itu sendiri sebagai suku yang memiliki Jakarta—seperti suku Minang yang memiliki Padang dan Sumatra Barat, suku Jawa yang memiliki Yogya dan Jawa Tengah, suku Batak yang memiliki Medan dan Sumatra Utara, suku Sunda yang memiliki Bandung dan Jawa Barat, dan lain-lain, dan lain lain.
Bukankah Betawi juga memiliki Pahlawan Nasional dan seni-budaya?
Kita kadung kecewa bahwa sejak jaman Soekarno di Orde Lama dan Soeharto di Orde Baru, orang Betawi sangat “digencet” ruang geraknya di bidang politik. Posisi-posisi mereka di pemerintahan sangat minim. Untuk di kampungnya sendiri, mereka terkadang hanya sebatas menjadi Ketua RT atau Ketua RW. Padahal banyak orang Betawi yang berpendidikan tinggi. Untuk kelas provinsi, paling banter menjadi wakil gubernur. Maka kita patut bersyukur karena dengan berubahnya angin politik maka Bang Fauzi Bowo punya kesempatan sehingga bisa menjadi Gubernur di DKI Jakarta.
Saya (dan mungkin banyak orang Betawi lain) sangat berharap tak lagi hanya bermimpi melihat uang kertas republik ini menampilkan nuansa Betawi.
Catatan:
1.Tulisan ini saya khususkan untuk (abjad) Bang Fauzi Bowo, Babe Husain Sain, Babe Nachrawi Ramli, Babe Ridwan Saidi, Bang Yahya Andi Saputra, dan Bang Yoyo Muchtar.
2. Wacana “uang Betawi” pernah saya utarakan pada Babe Edy Ruslan Tabrani pada siarannya di Bens Radio (Desember 2000), serta Bang Heru Haerudin, anggota Forkabi, Cipete, Jakarta Selatan (2009).
Jemblongan, Depok
090909
Chairil Gibran Ramadhan, lahir dan besar di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Pernah menjadi wartawan dan redaktur majalah di Jakarta. Cerpennya tampil di berbagai media nasional dan antologi bersama berbahasa Inggris untuk pasar internasional “Menagerie 5” (ed. Laora Arkeman, Yayasan Lontar, 2003). Antologi tunggal pertamanya berisi 17 cerpen bernuansa Betawi, “Sebelas Colen di Malam Lebaran” (Masup Jakarta, Oktober 2008).

Minggu, 19 Desember 2010

TV BETAWI ONLINE


silat golok siliwa betawidari kampung candran/blok s

ANAKBETAWIPERGINGAJI

Anak Betawi Pergi Ngaji “Sambil” HAJI
Dulu, bagi orang Betawi yang memiliki keinginan agar anaknya menjadi ulama besar, Makkah adalah tujuannya. Selain bisa ngaji kepada ulama yang terkemuka di sana, si anak juga dapat melaksanakan haji saban tahun karena Ka`bah di depan mata.
Sepulangnya ke tanah air, si anak selain berilmu juga sudah bergelar haji, suatu gelar terhormat di masyarakat Betawi, dan melengkapi pengakuan atas status sosialnya sebagai ulama dengan gelar Kyai Haji.
Untuk mewujudkan keinginan ini, apapun dikorbankan dan dilakoni orang tua, semisal menjual tanah, harta benda lainnya atau meminjam uang kepada tetangga.
Karena orang Betawi berpaham Ahlussunnah Wal Jama`ah dan setelah paham Wahabisme menghegemoni ke seluruh institusi pendidikan Islam di Saudi Arabia, bisa dikatakan sekarang ini sangat sedikit orang Betawi yang mengirim anaknya untuk ngaji ke sana, khususnya di Makkah. Terlebih setelah ulama Ahlussunnah wal Jama`ah terkemuka di Saudi Arabia, Sayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki wafat pada tahun 1995 lalu. Orang Betawi lebih memilih Mesir, Yaman atau Suriah sebagai tempat ngaji anak-anaknya untuk menjadi ulama besar, baik di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non-formalnya. Salah satu alasanya, karena kedekatannya dengan kota Makkah sehingga mudah untuk beribadah haji. Pengalaman anak Betawi yang pergi ngaji “sambil” haji ini direkam dengan baik oleh ulama Betawi dari pengalaman pribadi mereka. Salah satunya adalah KH. Noer Alie, sosok ulama-pejuang dan pahlawan nasional kita.
Waktu itu, tahun 1930-an, anak Betawi yang pergi ke kota Makkah untuk ngaji umumnya disesuaikan dengan musim haji karena kapal laut yang berangkat ke Jeddah, yaitu salah satunya kapal laut Telisce, memang diutamakan mengangkut jamaah haji, selain para pelajar dan barang-barang. Selain itu, mereka yang ke Makkah untuk ngaji atau belajar bisa mendapatkan potongan harga tiket sampai separuhnya. Dengan membayar f 92,5 (harga untuk pelajar yang sudah dipotong lima puluh persen, sedangkan jama`ah haji harus bayar seratus persen atau f 185), anak Betawi dapat berangkat ke tanah suci dengan dilepas sanak keluarga di Pelabuhan Tanjung Priok. Perjalanan laut ke Jeddah membutuhkan waktu selama dua minggu lebih, menyinggahi beberapa pelabuhan di beberapa negara, seperti Singapura, Kalkuta (India) , sampai Djibouti di Afrika Timur untuk mengisi bahan bakar. Di kapal laut ini jangan berharap mendapatkan kenyamanan seperti naik pesawat terbang karena ukuran kapasitas muatan kapal ditentukan atas timbangan berat, bukan jumlah penumpang. Jadi bisa dibayangkan kesumpekan yang dialami para penumpang, terlebih tidak ada kamar-kamar khusus yang disediakan untuk penumpang dan ventilasi serta sanitasi yang tidak nyaman.
Sering terjadi saat memasuki laut merah dan sudah dekat dengan pelabuhan Jeddah Telisce berhenti di tengah laut dan tidak dapat merapat karena perairan pelabuhan masih sangat dangkal. Untuk sampai ke pantai, para penumpang dijemput perahu-perahu tongkang yang masing-masing memuat sekitar 10 orang ditambah barang-barang penting seperlunya. Sedangkan barang-barang yang berat diangkut dengan tongkang lain. Di pelabuhan Jeddah, jamaah yang berasal dari Batavia disambut oleh Syeikh Al Betawi, yang mengurus jamaah haji atau pelajar Betawi yang akan bermukim di Makkah. Setelah diterima syeikh, semalaman jemaah diasramakan di tempat yang telah disediakan. Keesokan harinya, jemaah bertolak dari Jeddah ke Makkah dengan menggunakan Onta yang membutuhkan waktu dua hari satu malam melintasi wilayah gersang berpasir dengan suhu yang begitu panas dan sampai di Makkah setelah Maghrib. Bandingkan dengan sekarang yang hanya beberapa jam saja. Di Makkah, jamaah tinggal di penampungan Syaikh Al Betawi yang dipisahkan tempat tinggalnya antara jamaah haji dan pelajar. Pada hari pertama di Makkah, jamaah pada umumnya melakukan thawaf di Baitullah. Walaupun mereka sudah berada di Makkah, mereka belum bisa melakukan ibadah haji karena keberangkatan mereka dari Indonesia pada bulan Rajab sehingga masih beberapa bulan lagi untuk masuk bulan haji (Dzulhijjah). Untuk mengisi waktu, jama`ah haji memperbanyak ibadah sunnah, selain ibadah wajib, terutama di bulan Ramadhan dan juga umroh berkali-kali. Sedangkan yang berstatus sebagai pelajar, mereka mulai belajar atau mengaji.
Di Makkah pada waktu itu, terdapat dua model pendidikan yang dibedakan berdasarkan jenjang dan tempat belajar mengajar, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Umumnya, anak Betawi menempuh pendidikan non-formal yang tempat belajarnya tidak di ruang kelas tetapi di Masjidil Haram atau di rumah salah seorang guru mereka yang dipanggil syeikh. Di Masjidil Haram, terdapat sejumlah tempat khusus mengaji yang dipimpin oleh seorang syeikh dengan kepakarannya masing-masing dalam bidang ilmu ke-Islaman. Tempat khusus tersebut di kavling-kavling yang merupakan kesapakatan antara syeikh. Kavling tersebut tidak dibatasi oleh tembok atau pembatas lainnya, hanya diperkirakan saja. Bagi orang yang pertama kali datang, tentu terasa sulit untuk menentukan batas kavling. Syeikh-syeikh yang terkemuka pada waktu itu antara lain Syeikh Ali Al-Maliki (pengarang kitab Qurratul 'Ain yang masih dijadikan rujukan bagi kalangan nahdiyin sampai sekarang), Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Ahmad Fatoni, Syeikh Ibnul Arabi, Syeikh Muhammad Amin Al-Quthbi, Syeikh Achyadi, Syeikh Abdul Zalil dan Syeikh Umar at-Turki. Saat waktu haji, para pelajar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk melakukan ibadah haji dan kembali lagi mengaji setelah ibadah haji selesai dilaksanakan.
Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun sampai dipandang cukup untuk kembali ke tanah air untuk mengabdi di tengah-tengah umat sebagai kyai haji. Sekarang, tempat-tempat ngaji tersebut tidak ada lagi di Masjidil Haram karena terbentur larangan dari pemerintah. Para syeikh Ahlussunnah Wal Jama`ah yang tersisa dan masih meneruskan tradisi mengajar tersebut di Makkah, mengalihkan tempat pengajiannya di rumah masing-masing. Biasanya setiap musim haji, mereka masih didatangi oleh para pelajar dari Indonesia untuk mengaji walau hanya beberapa hari atau minggu saja, khususnya dari Betawi, yang umumnya tidak lagi berusia muda dan di tanah air sebagian bahkan berstatus sebagai ustadz atau ulama.

Rabu, 15 Desember 2010

TOKOH BETAWI PROTES SINETRON YANG LECEHKAN BUDAYA BETAWI

TOKOH BETAWI PROTES SINETRON YANG LECEHKAN BUDAYANYA

Depok -- Pemimpin Lembaga Kebudayaan Betawi dan tokoh masyarakat harus memprotes stasiun televisi yang menayangkan sinetron yang melecehkan budaya Betawi. Permintaan itu disampaikan Ali Shahab dalam seminar bertema "Betawi dan Jakarta: Tinjauan Budaya" yang diadakan di kampus Universitas Indonesia kemarin. Menurut Ali, sutradara film dan sinetron, LKB harus proaktif dan segera meminta stasiun televisi menghentikan tayangan tersebut.

Ali Shahab yang menjadi Ketua Betawi Intellectual Network menyebut sejumlah sinetron yang masuk kategori di atas, antara lain Kecil-kecil Jadi Manten (RCTI), Norak tapi Beken (SCTV), dan Bajaj Bajuri (Trans TV). Dia mengaku risi dengan peran yang dimainkan Sukma Ayu dalam Kecil-kecil Jadi Manten, sebagai perawan Betawi yang menggunduli kepalanya. "Apalagi perawan ini diceritakan tekdung (hamil) di luar nikah akibat pergaulannya dengan pacarnya yang banci," katanya.

Lalu, dalam sinetron Norak tapi Beken, peran Malih Tong Tong digambarkan bukan hanya menempatkan istri tua dan istri muda dalam satu rumah, tapi juga tidur dalam satu ranjang. "Ini hal yang tidak pernah dilakukan orang Betawi yang punya akhlak," kata Shahab yang menyutradarai sinetron Nyai Dasima itu. Sementara itu, dalam Bajaj Bajuri, Mat Solar memerankan Bajuri, tukang bajaj yang mandul dengan jumlah sperma yang tidak memadai untuk membuahi ovum Oneng, istrinya. Oneng digambarkan sebagai istri yang bodoh, sedangkan mertua Bajuri yang diperankan Nani Wijaya, digambarkan sebagai orang yang otoriter, egois, serakah, mata duitan, dan gila TV.

Belakangan, kata Shahab, setelah mendapat rating yang tinggi dari AC Nielsen, Bajaj Bajuri diputar secara stripping sepanjang minggu. Dia menyayangkan komedi yang awalnya jadi hiburan keluarga ini sudah kehilangan arah. Hampir tiap episode selalu bicara soal obat kuat, bisnis alat vital Mak Erot. "Sekarang pemirsa yang menonton bareng anaknya menjadi jengah mendengar istilah-istilah miring yang diucapkan Bajuri," kata Shahab, yang pendapatnya ini disetujui banyak peserta seminar.

Ali Shahab juga melihat diskriminasi kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap kesenian Betawi sejak dasawarsa 1980-an. Hal itu misalnya terlihat dengan fasilitas yang diberikan untuk "Aneka Ria Srimulat" di Taman Ismail Marzuki dan Taman Ria Remaja Senayan. "Ada semacam gerakan bawah tanah berupa 'JAWANISASI BUDAYA' yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Jawa di pemerintahan Orba," kata Shabab yang membawakan makalah berjudul "Orang Betawi: Digusur di Kampung, Dilecehkan di Te

TARI COKEK

Tari Cokek berkembang di daerah Betawi pada abad ke-19. Mulanya pertunjukan cokek ditarikan di rumah juragan-juragan atau tuan tanah untuk menghibur tamu yang datang. Kemudian, tari cokek berkembang menjadi tari pergaulan. Pada masa kini, tari cokek sering dipertunjukan dalam acara hajatan seperti perkawinan, sunatan, dan lain-lain. Tari cokek model baru memberi pesan pentingnya pergaulan yng baik dalam masyarakat.
Asal-muasal kata cokek dapat dijelaskan melalui dua versi. Versi yang pertama adalah karena tarian ini diperkenalkan oleh seorang tuan tanah asal Cina yang bernama Tan Sio Kek. Versi kedua menjelaskan bahwa kata Cokek berasal dari bahasa Hokkian, yaitu Cio Kek, yang artinya penari perempuan. Bahasa Hokkian memang banyak digunakan oleh para perantau Cina di Betawi karena memang banyak dari mereka yang berasal dari daerah Hokkian. Daerah Hokkian merupakan salah satu provinsi di Negara Cina.
Dalam perkembangannya, para penari Cokek disebut sebagai Wayang Cokek. Jumlah penari Cokek sekurang-kurangnya dua orang, yaitu sepasang penari laki-laki dan perempuan. Penari utamanya adalah perempuan. Pada zaman dahulu, yang menari hanyalah perempuan saja sedangkan penari laki-lakinya adalah para penonton yang diajak untuk ikut menari. Sekarang, para laki-laki pun ikut menari Cokek dan memakai pakaian yang sepadan dengan penari perempuannya.
Saat ini lau-lagu yang biasa dimainkan untuk mengiringi tari Cokek adalah lagu khas Betawi seperti: Gelatik Nguk-Nguk, Cente Manis, Surilang Enjot-Enjotan, Sirih Kuning, Keramat Karem, dan lain-lain.
Sayangnya, saat ini tari Cokek sudah mulai ditinggalkan oleh penduduk Jakarta. Warga asli Betawi pun sudah tidak menari Cokek lagi. Mereka saat ini lebih banyak tertarik pada hiburan lain seperti musik pop, jazz, rock, R n B, dll.
Kelompok tari Cokek yang masih tersisa kini bertahan di daerah pinggiran Jakarta seperti : Bekasi, Bogor dan Tangerang. Para penari dan pemain musiknya pun sudah berusia lanjut.
Dalam mengapresiasi dan mengekspresikan tari Cokek, ada beberapa nilai luhur yang bisa kita pelajari. Tari Cokek dilakukan berpasang-pasangan antara perempuan dan laki-laki. Setiap pasang penari harus kompak dan mau bekerja sama dengan baik. Kalau tidak bekerja sama dengan baik, tariannya akan menjadi kacau.
Tari Cokek termasuk kesenian Betawi yang hampir punah. Dengan mempelajarinya, kita sudah ikut melestarikan kesenian daerah Betawi. Melestarikan kesenian daerah merupakan perbuatan anak bangsa yang terpuji.

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.
Seorang budak belian perempuan dari Bali. Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).
Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya.
Orang Tiong Hoa senang main kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den Haag. Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.
Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka.
Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.
Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Gereja Immanuel di Gambir pada pertengahan abad ke 18
Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.
Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.
Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.
Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota
Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkanjalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan. Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga - tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

Si Pitung Perampok atau Pemberontak?

Si Pitung Perampok atau Pemberontak?
Oleh Ridwan Saidi

Si Pitung selama delapan tahun (1886 – 1894) telah meresahkan Batavia. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera Snouck Hurgronje mengecam habis-habisan kepala polisi Batavia Schout Hijne yang tak mampu menangkap Pitung. Hurgronje menganggap amat keterlaluan kalau seorang Eropa seperti Hijne sampai harus berdukun untuk dapat menangkap Pitung. Hurgronje menganggap kepala polisi ini sangat tidak terpelajar yang tak mampu memperhitungkan kehadiran alat transportasi baru, kereta api, yang dengannya Pitung dapat hilir mudik. Lebih menggusarkan lagi Pitung dapat meloloskan diri dari penjara Meester Cornelis ketika tertangkap pada tahun 1891. Tidak hanya itu, di luar penjara Pitung masih sempat membunuh Demang Kebayoran, yang menjadi musuh petani-petani Kebayoran dan telah pula menjebloskan saudara misan Pitung, Ji’ih, ke penjara dan kemudian dihukum mati.

Margriet van Teel dalam laporan penelitiannya tahun 1984 sebagaimana disiarkan Bijdragen tahun penerbitan semasa mengungkapkan bahwa polisi Belanda pernah menggerebek rumah si Pitung di Rawa Belong, Jakarta Barat, dan ternyata di rumah itu yang ditemukan hanyalah beberapa keping uang benggolan senilai 2,5 sen yang tersimpan di bambu. Padahal selama delapan tahun Pitung melakukan aksi perampokan dengan sasaran saudagar yang dinilainya bersekutu dengan Belanda telah mengeruk uang dan emas permata yang tidak sedikit nilai dan jumlahnya.

Dalam menjalankan aksi perampokannya, Pitung tidak membangun komplotan melainkan berdua denga sepupunya Ji’ih yang kemudian dihukum mati. Setelah itu Pitung bekerja sendiri. Karena itulah sulit polisi mendapatkan informasi tentang Pitung.

Apa yang dikenal sebagai rumah si Pitung yang berlokasi di Marunda, Jakarta Utara, sesungguhnya rumah Haji Safiudin seorang bandar perdagangan ikan. Ada dua versi tentang perampokan di rumah Haji Safiudin. Versi pertama mengatakan Pitung benar-benar telah merampok Haji Safiudin. Versi kedua meragukan kalau Haji Safiudin sempat dirampok. Diperkirakan terjadi kesepakatan antara Safiudin dengan Pitung. Safiudin menyerahkan sejumlah uang. Penulis meyakini versi kedua dengan penjelasan di bawah nanti.

Mengangon kambing

Ibu kandung Pitung berasal dari Rawa Belong, Jakarta Barat, ayahnya berasal dari kampung Cikoneng, Tangerang. Diperkirakan Pitung lahir pada tahun 1866 di Tangerang. Sekitar usia delapan tahun Pitung merasakan kehidupan yang pahit. Kedua orang tuanya bercerai. Ibunya menolak dijadikan isteri tua. Pitung bersama ibunya kembali ke kampung Rawa Belong, sedangkan ayahnya menetap di Cikoneng, Tangerang, bersama istri mudanya dan tetap bekerja pada tuan Tanah Cikoneng. Kemudian hari ketika Pitung sudah menjadi buronan ia kerap berkunjung ke rumah Tuan Tanah Cikoneng.

Di Rawa Belong Pitung mengangon kambing milik kakeknya. Setelah berusia 14 tahun, Pitung dipercaya menjual kambing di pasar Kebayoran. Pada suatu hari saat kembali dari pasar menjual kambing, Pitung dirampok. Ia tak berani pulang takut dimarahi kakek dan ibunya. Pitung mengembara dengan dendam yang amat sangat terhadap kekerasan.

Dalam pengembaraannya itu sampailah ia di kampung Kemayoran, dan berkenalan dengan Guru Na’ipin. Seorang ahli tarekat yang pandai bermain silat. Guru Na’ipin adalah murid Guru Cit seorang mursyid, guru tarekat, dari kampung Pecenongan, Jakarta Pusat. Sekitar enam tahun Pitung berguru pada Na’ipin.

Na’ipin bersahabat dengan Mohammad Bakir, pengarang Betawi akhir abad XIX. Karya Mohammad Bakir tersimpan di sejumlah meseum terkemuka di dunia antara lain Petersburg, Rusia, London, dan negeri Belanda. Dari titik inilah Na’ipin membangun hubungan dengan jaringan Jembatan Lima, Jakarta Barat, yang ketika itu sudah dipimpin Bang Sa’irin. Di kampung inilah segala gagasan pemberontakan dan perlawanan terhadap Belanda di sepanjang abad XIX dan permulaan abad XX dirancang. Jaringan Jembatan Lima sebelumnya dipimpin Cing Sa’dullah, juga seorang pengarang Betawi.

Pitung tidak pernah menikmati hasil rampokannya. Ia tak pernah beristeri, karena buronan yang tidak menetap di suatu tempat. Ia juga bukan penjudi, atau pun pemabuk. Ia seorang penganut tarekat. Menurut Margriet van Teel, Pitung dapat menulis dalam aksara Melayu Arab. Margriet van Teel melaporkan bahwa tatkala di penjara Meester Cornelis, Jatinegara, Pitung sempat beberapa kali menyelundupkan surat yanag ditujukan pada pengurus mesjid Al Atiq kampung Melayu. Dalam surat itu Pitung menggunakan nama samaran Solihun, orang yang saleh.

Di kalangan tarekat tatkala itu berkembang keyakinan bahwa merampas harta musuh untuk kepentingan perjuangan adalah halal belaka. Ini disebut fa’ie. Pitung menjalankan tugas ini setelah tokoh-tokoh pemberontakan petani di Jakatrta dan sekitarnya kesulitan dana karena penyandang dana selama itu, pelukis Raden Saleh, telah disita kekayaannya pada tahun 1870 karena terlibat pemberontakan petani. Dan pada tahun 1880 Raden Saleh meninggal dunia di Bogor dalam keadaan miskin.

Seluruh hasil rampokan Pitung diserahkan untuk kepentingan perjuangan. Bukan dibagi-bagikan langsung kepada rakyat kecil sebagaimana selama ini didongengkan. Karena itulah Pitung amat sulit ditangkap karena jaringannya amat luas. Bahkan salah seorang calon korbannya, Haji Safiudin kampung Marunda, akhirnya menjadi mitranya. Pitung seringkali berkunjung ke rumah Haji Safiudin di Marunda yang kemudian terkenal sebagai rumah si Pitung.

Karena seringnya Pitung berkunjung ke Marunda, akhirnya tercium mata-mata Belanda. Route Pitung dilacak. Pitung selalunya muncul dari Pondok Kopi, Jakarta Timur, jika hendak ke Marunda. Pada suatu petang Schout Hijne dengan kekuatan satu regu pasukan polisi bersenjata lengkap menanti Pitung di Pondok Kopi. Tak ayal lagi begitu hari mulai gelap Pitung muncul. Ia dihujani peluru. Pitung rebah, tapi tak langsung tewas. Ia dibawa dengan mobil ambulans yang sudah disiapkan ke rumah sakit militer, kini RSPAD, di Jl Raya Senen, Jakarta Pusat.

Menurut laporan Margriet van Teel, sepanjang perjalanan Pitung terus menerus menyanyikan lagu Nina Bobo, sehingga ditegur Schout Hijne apa kiranya permintaan Pitung terakhir karena tampaknya ajal hendak menjemput. Pitung mengatakan ia minta dibelikan tuak, air nira, dengan es. Permintaannya dikabulkan. Segelas air nira sejuk diminumnya, belumlah kering gelas itu Pitung berpulang. Pitung mati muda dalam usia duapuluh delapan tahun. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

MH Thamrin layak dijadikan tauladan BETAWI

Pemikiran MH Thamrin Layak Dijadikan Tauladan Bagi Generasi Muda Betawi





Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berharap kepada generasi muda Betawi meneladani apa yang diperbuat MH Thamrin.

"Pemikiran dan perjalanan MH Thamrin layak dijadikan tauladan bagi generasi penerus Bamus Betawi saat ini," kata Bang Fauzi-sapaan akrab Fauzi Bowo saat acara seminar nasional Pra musyawarah besar (Mubes) Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dengan tema "Membedah Pemikiran Progresif MH THamrin", Kamis (10/1).

Menurut Bang Fauzi, para penerus di Bamus ini juga tidak harus fokus pada pembangunan Jakarta saja, tetapi kalau bisa lingkupnya lebih global lagi.

"Semangat MH Thamrin yang sangat besar dalam merintis kemerdekaan bangsa jangan memudar pada generasi muda sekarang. Seharusnya, apa yang diperbuat menjadi inspirator bagi pemuda sekarang," terangnya.

Dalam sosok Thamrin, kata Bang Fauzi, banyak unsur yang dapat dipelajari, misalnya saja kesederhanaan seorang pemimpin untuk menuju kemerdekaan. "Memang jaman perjuangan dulu tidak sama dengan sekarang, namun kita masih bisa meneladani perilaku Thamrin sebagai seorang pemimpin yang rendah hati," ujarnya.

Bang Fauzi dalam kegiatan ini juga menyinggung peran masyarakat Betawi dalam mengentaskan kemiskinan yang masih kurang. Padahal, rata-rata warga Betawi di Jakarta berpendidikan tinggi.

"Kemiskinan hanya bisa diberantas dengan pola pikir yang maju. Data pilkada lalu, sebagian besar warga Jakarta banyak yang berpendidikan sarjana tetapi sedikit yang berpikiran maju," tegasnya.

Padahal, lanjut Bang Fauzi, buyut Betawi mengajarkan pendidikan pada anak-cucu Betawi agar mereka bisa menjadi panutan bagi orang lain. "Dulu buyut kita lebih menekankan pada pendidikan agama, makanya sampai sekarang anak Betawi banyak yang pintar mengaji. Modal pendidikan agama ini harus menjadi pedoman dalam menempuh pendidikan tinggi lainnya, jangan malah diabaikan," katanya.

Lebih lanjut Bang Fauzi bergarap, ke depannya, para penerus Bamus Betawi bisa memberikan sumbangan pemikiran dalam membangun bangsa karena masa depan bangsa berada di pundak generasi muda.

"Orang Betawi tidak hanya menjadi jago kandang, tapi menjadi tokoh terkemuka dalam forum-forum nasional maupun internasional," pungkasnya.

Perlu diketahui, sosok Muhammad Husni (MH) Thamrin yang merupakan salah satu pahlawan nasional dan putera Betawi menginsiprasikan berbagai pihak untuk berjuang demi kemerdekaan. Perjalanan hidup dan pemikiran Thamrin yang sarat makna ini patut dijadikan teladan bagi generasi muda Jakarta.

PAHLAWAN BETAWI

PAHLAWAN

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang diundang untuk memberikan sambutan mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberi perhatian kepada tokoh Betawi masa lalu yang memang layak untuk diperjuangkan sebagai pahlawan nasional. Namun banyak di antara mereka yang sebenarnya pantas untuk diperjuangkan mendapat gelar tersebut, tetapi karena terkendala oleh minimnya informasi tentang profil dan kiprahnya yang lebih luas dan terdokumentasikan secara utuh menjadi sulit untuk diperjuangkan.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Sedangkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia, menurut Kamus Wikipedia Indonesia, diberikan oleh Pemerintah Republika Indonesia kepada mereka yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia dan mereka yang berjuang dalam proses untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Untuk memenuhi kriteria menjadi Pahlawan Nasional Indonesia ini, masyarakat Betawi patut berbangga. Sebab, jika ditelusuri lebih mendalam, ternyata mempunyai stok SDM dari masa lalu dan masa kini cukup banyak dan yang layak untuk dijadikan pahlawan di tingkat nasional. Yang secara resmi telah mendapatkan gelar ini dari pemerintah sampai hari ini ada empat orang, yaitu: Ismail Marzuki, Mohammad Husni Thamrin, Prof. dr. Sp.F. Marsekal Muda Anumerta Abdulrachman Saleh, dan KH. Noer Alie. Sedangkan yang patut diperhatikan untuk diberikan gelar tersebut masih banyak lagi. Sebut saja, H.Entong Gendut, Guru Manshur Jembatan Lima dan KH. Mursyidi.
Kisah kepahlawanan H. Entong Gendut di masyarakat Betawi, khususnya di kawasan Condet, seperti yang dikisahkan oleh Alwi Shahab, begitu melegenda. Ia adalah sosok petani sekaligus pendekar. Ia memimpin masyarakat Betawi di Condet untuk memberontak dan melakukan perlawanan kepada VOC. Hal ini dilakukannya karena tidak terima dengan kebijakan dan perbuatan VOC yang meminta penduduk untuk membayar upeti hasil bumi dan tanah garapan para petani Condet. Perlawanannya tidak hanya terjadi di daerah Condet, tetapi meluas sampai ke daerah Kramat Jati, Cililitan, Kalibata dan Pasar Minggu. Begitu sengitnya perlawanan yang dilakukan oleh H. Entong Gendut dan para pengikutnya, membuat VOC kewalahan dan akhirnya menambah pasukannya yang didatangkan dari Bekasi berupa satu detasemen kavelery. Pada satu pertempuran di Balekambang, H. Entong Gendut pun gugur setelah mendapat brondongan peluru. Jasadnya kemudian dibungkus dan dibawa ke Rumah Sakit Belanda di Kramat Djati (kini menjadi RS Polri)
untuk disemayamkan.
Sedangkan Guru Manshur Jembatan Lima dikenal dengan kisah pengibaran bendera merah putih di menara Masjid Al-Manshur Jembatan Lima. Ketika Jakarta diduduki NICA 1946, Ia memerintahkan kepada muridnya agar di menara Masjid Al-Manshur dikibarkan bendera merah putih. Setelah bendera berkibar, tentara NICA yang melihatnya memerintahkan kepada Guru Manshur agar bendera tersebut diturunkan, namun Guru Manshur menolaknya. Meskipun setelah itu Tentara NICA menembaki menara mesjid, Guru Manshur tetap bertahan dengan pendiriannya. Belanda bertukar siasat. Belanda menyerahkan hadiah berupa uang kertas satu kaleng biskuit. Guru Manshur langsung menolak sambil berkata, “Gue kagak mau disuruh ngelonin kebatilan”.
Adapun KH Mursyidi, ulama Betawi asal Klender, dikenal perjuangannya ketika pada tahun 1945 aktif di Menteng 31, markas Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan mendirikan Barisan Rakyat (ABRA) di Kampung Bulak, Klender. Dari tahun 1945 sampai tahun 1949, ia terlibat aktif dalam perang mengusir agresi Belanda dan sekutunya. Saat itu, ia menjadi komandan perjuangan rakyat yang mempunyai kewenangan untuk membentuk pemerintahan di tingkat kecamatan atau kewedanan. Kepahlawanannya dikenal bersama dengan dua rekannya, H. Darip dan KH. Hasbiyallah, sebagai tiga serangkai dari Klender.
Tiga contoh di atas adalah tokoh-tokoh Betawi di masa lalu yang melakukan perlawanan fisik menghadapi penjajah dan layak untuk diperjuangan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menjadi pahlawan nasional. Mereka telah berjasa di masanya dan dirasakan kiprah dan peranananya oleh masyarakat, juga di masanya. Dan pemerintah setiap tahun, setiap tanggal 10 Nopember, memberikan gelar pahlawan, dan sepertinya tokoh-tokoh yang disebut di atas tinggal menunggu waktu saja untuk mendapatkannya. Namun, masyarakat Betawi dan masyarakat Jakarta kini lebih membutuhkan pahlawan-pahlawan baru yang dapat membantu mereka untuk lepas dari persoalan hidup, yang dapat mengentaskan mereka dari kemiskinan dan tipisnya iman. Untuk pahlawan jenis ini, sepertinya Jakarta belum punya. ***

BETAWI TIONGHOA

Orang Tionghoa sudah lama sekali berada di Jakarta. Pada waktu
Belanda pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jayakarta di sana
sudah ada pemukiman Tionghoa di muara sungai Ciliwung. Ini
menunjukkan bahwa hubungan yang sangat baik antara etnik yang di
kemudian hari dikenal sebagai etnik Betawi dengan etnik Tionghoa
sudah berlangsung sangat lama, jauh sebelum datangnya bangsa-bangsa
Barat ke Nusantara.

Orang-orang Tionghoa yang datang ke Jawa umumnya berasal dari
propinsi Hokkian bagian selatan (Ban-lam). Yang dimaksud dengan
Hokkian selatan ialah wilayah sekitar Ciangciu (Zhangzhou), Emui
(Xiamen) dan Coanciu (Quanzhou)

Maka dari itu secara umum pengaruh Tionghoa yang masuk ke dalam
budaya Betawi adalah budaya Hokkian selatan, bukan dari bagian lain
negeri Cina. Bahwasanya budaya Hokkian selatanlah yang sangat besar
pengaruhnya tampak dari istilah-istilah Hokkian selatan yang sampai
sekarang masih dikenal di kalangan Tionghoa peranakan dan sebagian
telah masuk ke dalam kosa kata bahasa Betawi.

Menurut Raden Aryo Sastrodarmo, seorang pelancong Surakarta di
Batavia pada tahun 1865, dalam Kawontenan ing Nagari Betawi, seperti
dikutib Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi: Asal Muasal,
Kebudayaan dan Adat Istiadatnya, adat-istiadat Betawi mirip adat-
istiadat Tionghoa. Cara orang Betawi memperkenalkan diri juga seperti
orang Tionghoa. Cara mereka duduk dan bercakap-cakap juga sama dengan
Tionghoa yaitu duduk di kursi, dan jika makan memakai meja, tida
bersila di atas tikar yang terhampar di tanah. Orang Betawi juga
belajar silat dari orang Tionghoa. Orang Betawi tida punya rasa takut
(alias pede?) disebabkan pengaruh orang Tionghoa.

Kalau di wilayah budaya Jawa, misalnya, etnik Tionghoa peranakan
sangat dipengaruhi budaya Jawa sehingga sejak dahulu tida sedikit di
antara mereka yang boleh dibilang pakar dalam kebudayaan Jawa:
gamelan Jawa, tari Jawa, wayang wong, dan lain-lain, maka menurut
pengamatan saya di Jakarta ini interaksi budayadalam arti saling
mempengaruhiantara kedua belah pihak sangat kuat. Di satu pihak
etnik Tionghoa, khususnya peranakan, sangat dipengaruhi budaya
Betawi, di lain pihak etnik Betawi juga sangat dipengaruhi budaya
Tionghoa. Begitu dekatnya hubungan budaya antara kedua etnik ini,
sehingga seorang sobat saya dari etnik Betawi berseloroh, "Betawi ame
Cine ubungannye kaye gigi ame bibir aje."

Di bawah ini ada banyak istilah yang berasal dari bahasa Tionghoa.
Istilah-istilah dalam dialek Hokkian selatan itu saya letakkan di
dalam kurung dan ditulis sesuai lafal aslinya menurut kamus.

Bahasa Betawi adalah bahasa yang sangat terbuka. Dalam bahasa Betawi
sangat banyak kita temukan kata-kata pinjaman (loanwords) dari bahasa
Tionghoa, utamanya dialek Hokkian selatan (Ban-lam gi). Kata-kata
dalam bahasa Betawi yang berasal dari dialek Hokkian selatan antara
lain adalah: kata ganti diri gua (goa) 'saya', dan lu (lu) 'kamu',
kata bilangan sederhana: gotun (gou-tun), ' lima perak (rupiah)',
captun (cap-tun) 'sepuluh rupiah', cepeh (cit-peh), 'seratus', gopeh
(gou-peh) 'lima ratus', ceceng (cit-cheng), 'seribu (rupiah),' goceng
(gou-cheng), lima ribu', ceban (cit-ban) 'sepuluh ribu', cetiau (cit-
tiau) 'sejuta', liangsim (liang-sim), 'hati nurani' atau 'isi perut',
cabo (ca-bou) 'wanita pekerja seks', sue (soe), 'sial atau naas',
sue'an 'sialan', dan masih banyak lagi.

Bagian depan rumah Betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan (lan-
kan) 'balustrade'. Agar tampak indah dan tida kusam, pintu dan
jendela harus dicat (chat) ulang setiap tahun. Di dinding tergantung
loceng atau lonceng (lo-ceng). Penghuni rumah tidur di pangkeng (pang-
keng) 'kamar tidur'. Sebelum tidur orang tentunya ingin kongko (kong-
kou) 'mengobrol' terlebih dahulu sambil minum teh (te) dan makan
kuaci (koa-ci). Ta'pang (tah-pang) 'balai-balai' atau 'dipan' dipakai
untuk rebah-rebahan sambil bersantai.

Untuk memasak di dapur ada langseng (lang-sng) 'dandang', anglo (hang-
lou) 'perapian dengan arang'. Meja bisa dibersihkan dengan topo' (toh-
pou) 'lap meja', bisa juga pakai kemoceng (ke-mo-cheng) 'bulu ayam'
untuk menghilangkan debunya. Lantas tesi (te-si) 'sendok teh'
tentunya untuk menyendok. Untuk mengumpulkan sampah yang sudah disapu
ada pengki (pun-ki). Di tempat-tempat becek doeloe orang suka memakai
bakiak (bak-kiah) yang tahan air.

Di bidang makanan kecap (ke-ciap) Benteng (Tangerang) memang sudah
bekend en tersohor sejak jeman doeloe. Manisan tangkue (tang-koa atau
tang-koe) 'beligo' atau 'kundur' memang enak buat dinikmati sembari
minum teh. Mi (mi), bihun (bi-hun), tahu (tau-hu), toge (tau-ge),
tauco (tau-cioun), kucai (ku-chai), lokio (lou-kio), juhi (jiu-hi),
ebi (he-bi), dan tepung hunkwee (hun-koe) tak terpisahkan lagi dengan
culinary Betawi. Selain itu kue mangkok (hoat-koe), kue ku (ang-ku-
koe), kue sengkulun (sang-ko-lun) telah menjadi kue-kue khas Betawi.
Selain Semarang, ternyata Jakarta juga punya penganan yang namanya
lumpia (lun-pian) yang tak kalah sedapnya. Sudah pernah mencoba makan
ngohiang (ngou-hiang) alias gohiong? Lantas siapa yang tida kenal
ikan cuwe (choe) dan nasi tim (tim)?

Pengaruh budaya Tionghoa terasa pula dalam pernikahan tradisi Betawi.
Petasan (mercon, kata orang Jawa) salah satu contohnya. Di beberapa
daerah, suatu pernikahan gaya Betawi takkan lengkap kiranya tanpa
bunyi petasan renceng yang memekakkan telinga saat menyambut
penganten laki-laki.

Dalam rombongan ngarak penganten di unit kedua ada barisan remaja
pesilat berseragam membawa senjata khas Tionghoa berupa tongkat
panjang yang disebut toya.

Pengaruh lain ialah dalam pakaian penganten perempuan Betawi yang
disebut putri Cina. Pada Festival Pecinan I di tahun lalu telah kita
lihat peragaan upacara perkawinan tradisi Tionghoa peranakan di
Tangerang. Bisa kita amati persamaan dan perbedaan antara pakaian
penganten perempuan Tionghoa dengan pakaian penganten Betawi yang
tentu sudah sering diperagakan. Pakaian penganten perempuan Betawi
yang disebut Putri Cina pada dasarnya sama saja dengan pakaian
penganten perempuan tradisi Tionghoa peranakan. Baju penganten Putri
Cina itu terdiri dari: serangkaian Kembang Goyang dengan Burung Hong
serta penutup wajah penganten perempuan yang disebut Siangko (pat-
sian khou), baju penganten berpotongan Mancu yang mempunyai bukaan di
kanan, yang disebut baju Toaki (toa-ki), dan bawahan berupa rok lipit
yang disebut Kun (kun). Di bagian bahu dan dadanya penganten
perempuan memakai aksesori yang disebut Terate (in-kian). Seperti apa
pakaian penganten perempuan Tionghoa peranakan ini dapat dilihat
melalui foto sampul KSK edisi perdana Juni 2002 lalu.

Sama seperti orang Tionghoa, orang Betawi pun kalau kondangan lazim
memberikan angpau atau ampau, selain barang-barang lain, kepada tuan
atau nyonya rumah. Ampau (ang-pau) ialah bingkisan uang yang
dimasukkan ke dalam amplop khusus bergaris merah.

Dalam pertemuan-pertemuan kaum Betawi, para lelaki biasanya
mengenakan baju tikim (tui-khim)ada yang menyebutnya baju koko dan
sadariahdengan padanan celana batik dan selendang yang dikalungkan
di dada. Celana pangsi (phang-si) berwarna hitam kebanyakan dipakai
oleh jago-jago/jawara-jawara. Ibu-ibu sering menggendong anak yang
masih kecil dengan cukin (chiu-kin). Untuk ikat pinggang dipakai
angkin (ang-kin). Anak-anak kecil doeloe suka mengenakan oto (io-tou)
supaya tida mudah masuk angin.

Kalau kondangan banyak kaum perempuan yang memakai Kebaya Encim.
Kebaya ini merupakan pengaruh tida langsung orang Tionghoa peranakan
terhadap orang Betawi. Walau kebaya ini asalnya dari orang Indo, tapi
kemudian dimodifikasi dan diadaptasi oleh kaum perempuan Tionghoa
peranakan. Jika kebaya Indo hanya berwarna putih, maka kebaya
perempuan Tionghoa peranakan kemudian tida lagi berwarna putih, dan
lalu diberi sulaman (bordir) benang berwarna-warni. Bermacam motif
dekoratif disulamkan di sini. Mulai dari aneka flora, kupu-kupu, dan
burung bahkan sampai ke . . . raket tenis! Ujung kebaya yang pada
kebaya Indo rata dibuat menjadi sonday (meruncing). Ujung sonday
inilah yang lantas menjadi ciri khas Kebaya Nyonya peranakan. Kebaya
yang kini disebut Kebaya Encim ini selanjutnya diadaptasi oleh kaum
perempuan Betawi.

Dalam bidang seni musik kontribusi orang Tionghoa, dalam hal ini
orang Tionghoa peranakan, yang tida kalah penting adalah musik khas
Jakarta yang disebut gambang kromong. Jenis musik ini memang musik
pembauran alias campuran, seperti dikatakan sendiri oleh Kwee Kek
Beng, seorang wartawan senior, ''Maoe dikata Tionghoa terlaloe
Indonesia, maoe dikata Indonesia terlaloe Tionghoa."

Gambang kromong pada mulanya membawakan lagu-lagu instrumentalia dari
daerah Hokkian selatan (lagu pobin) dengan iringan gambang, kromong,
ningning, kecrek, kendang, goong, suling, dan beberapa instrumen
gesek Tionghoa. Instrumen gesek itu terdiri dari: sukong (su-kong)
yang besar dan bernada rendah, tehyan (the-hian) yang sedang, dan
kongahyan (kong-a-hian) yang paling kecil dan bernada tinggi.

Lagu pobin merupakan lagu terawal gambang kromong, biasanya dimainkan
sebagai pembukaan suatu pertunjukan musik gambang kromong. Judulnya
masih dalam dialek Hokkian selatan. Judul lagu pobin yang masih dapat
sering diperdengarkan antara lain: Khong Ji Liok ('Kosong Dua Enam')
dan Peh Pan Thau ('Delapan Ketukan'). Laras (surupan) gambang kromong
adalah laras salendro yang juga khas Tionghoa, disebut Salendro Cina.
Para pemain (panjak) gambang kromong bisa dari etnik Tionghoa
peranakan, bisa dari etnik Betawi, atau campuran antara keduanya.

Selain memainkan lagu-lagu pobin, gambang kromong juga mengiringi
lagu-lagu yang dinyanyikan wayang cokek. Wayang adalah 'anak wayang'
(aktor atau aktris), sedangkan cokek dari kata chioun-khek yang
artinya 'menyanyi' (to sing a song). Wayang cokek menyanyi sambil
menari (ngibing) bersama pasangan laki-laki. Selendang untuk menari
bersama wayang cokek disebut cukin (chiu-kin) atau soder.

Mengenai istilah kekerabatan orang Betawi menyebut kakenya ngkong (ng-
kong), ibunya enya' (ng-nia), paman dan bibinya encing (ng-cim). Dari
ketiga istilah kekerabatan ini ngkong-lah yang paling jelas dipinjam
dari istilah kekerabatan Hokkian selatan.

Demikianlah bahasan singkat saya tentang berbagai pengaruh budaya
Tionghoa dalam budaya Betawi yang berhasil saya telusuri. Pengaruh
yang sebenarnya juga berlaku timbal balik antara kedua etnik
tersebut. Pengaruh yang mencerminkan kebhinnekaan yang sesungguhnya
dalam budaya bangsa kita ini.

Name asli dari SI PITUNG

Name asli dari SI PITUNG

Name asli dari SI PITUNG...SEBUTAN LAEN : BABE adalah:RADEN MUHAMMAD ALI BIN RADEN SAMIRIN BIN RADEN ABDUL KHADIR BIN PANGERAN RADEN JIDAR (NITIKUSUMA KE-5)


Beliau lahir di petunduan palmerah pada tahun 1874 dan wafat pada tahun 1903 di bandenagan utara kecamatan penjaringan-JAKARTA,Beliau termasuk pahlawan BETAWI dalam melakukan perlawanan terhadap tuan-tuan tanah Cina dan Belanda.

Dalam perjuangannye si Pitung selalu menggunakan silatnye untuk Amarmakruf nahi munkar nyang berarti mengajak orang ke jalan kebaikan dan mencegah kesesatan.Jagoan BETAWI nyang sebenarnye JAGO punye sifat: jujur,tidak takabur,berbudi pekerti baik,peka terhadap penderitaan orang lain.
Memang jagoan-jagoan betawi ade juge nyang jahat yaitu jagoan-jagoan bayaran yang di sewa untuk membela tuan-tuan tanah dan penjajah belande,jagoan-jagoan ini doyan kekerasan biasanye di panggil Si tukang kepruk.
Jagoan-jagoan ini tidak lagi mempergunakan ilmu kesaktian dan bela dirinya untuk mencapai kesempurnaan spiritual sebagai manusia, tetapi sebaliknya disalahgunakan untuk mendapatkan kepuasan materi.

Misalnye dulu, pada zaman cultuur stelsel (tanam paksa), sebagian besar jago lebih suka berpihak kepada mesin sistem ekonomi kolonial atau tuan tanah ketimbang membela kaum lemah. Mereka menjadi tukang pukul untuk memaksakan kepentingan tuan tanah di wilayah particuliere landerijen (tanah-tanah partikulir) seperti di Tangerang, Ciomas, Bekasi, dan Cililitan.

di riwayatkan di tanah-tanah partikulir itu penindasan kaum tani lebih kasar dan keji dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa. Particuliere landerijen adalah tanah-tanah milik pribadi nyang sangat luas yang pemilik-pemiliknya dapat disebut tuan-tuan tanah yang mempunyai hak feodal para penyewa tanah mereka, termasuk hak istimewa untuk memungut pajak-pajak pribadi dan tugas-tugas kerja paksa yang berat. Pemerintah jajahan jarang campur tangan dalam urusan intern tanah-tanah milik itu, jadi memperbolehkan penyalahgunaan nyang melampaui batas untuk terus berlangsung tanpa ada usaha perbaikan.

Logged



________________________________________
Hari-hari Akhir Si Pitung

oleh alwishahab

Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Bagaimana Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap pribumi termasuk ‘turun tikus’. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah.

Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Belanda, berdasarkan cerita rakyat, mati setelah ditembak dengan peluru emas oleh schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan.

Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, ‘orang yang denger kate’. Dia juga ‘terang hati’, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan.

Suatu ketika di usia remaja –sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar. Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang ‘menyeramkan’ yang pasti akan berhadapan dengan begal.

Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Si Pitung yang mendapat sebutan ‘Robinhood’ Betawi, sekalipun tidak sama dengan ‘Robinhood’ si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil.

Sejauh ini, tokoh legendaris si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam ‘Intisari’ melukiskan berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang si Pitung sama sekali tidak menarik perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan ujung melingkar ke depan.”

Menurut Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan si Pitung. Setelah van Hinne pergi, barulah si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran Belanda, tidak heran kalau si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu menghilang. ”Yang pasti,” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain.” Sedang kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini karena ia memiliki kesaksian ‘ilmu rontek’.

Nama-nama Betawi yang di ‘Barat’ kan

Nama-nama Betawi yang di ‘Barat’ kan

Show Much Bean Much Say Knee (Somad Bin Mat Sani)
Man Sure Give Brain (Mansur Gibran)
And Tounge Bean Say Neap (Entong bin Sanip)
Much Pay Cee (Mat Peci)
Judge Free Bean Say Far (Jupri bin Safar)
Say The Lee (Sadelih)
Row Jay Lee (Rojalih)
Mare Judge Kee (Marjukih)
More Say Knee Bean Tea Rodge Jack (Mursanih Binti Rojak)
Know Noon Bean Tea Bow Old (Nunung Binti Bo’o)
Much Row Jea (Matroji)
Row High Yeah (Rohaye)
Rodge Jack Bean Mare Bune (Rojak bin Marbun)
You Dean Pay Tooth (Udin Petot)
Seat Tea Mare Foo A (Siti Marfu’e)
Seat Tea Eye Say (Siti Aise)
Dash You Kee (Dasukih)
Bank Dean Knee (Bang Danih)
Duch Land (Dahlan)
Make More (Makmur)
Show Lea Keane (Solikhin)
Zoo Lay High (Zulekha)

Menteng Sebuah Sub Kultur

Menteng Sebuah Sub Kultur
Oleh Ridwan Saidi

Mentengbuurt dibangun tahun 1920 oleh developer N.V. Kondang Dia, kemudian hari dipakai menjadi nama kampung Gondangdia. Bangunan mewah didirikan dengan batas selatan Dukuh Sawah (kini Jl. Kendal), sebelah barat Kampung Lima (kini Jl. Sabang), sebelah timur kampung Kali Pasir, Raden Saleh, dan Gang Ampiun, dan sebelah utara tanah lapang Gambir. Fasilitas umum dan sosial dibangun untuk melayani kepentingan penduduk, dua stasiun KA didirikan dengan jarak berdekatan yaitu Pegangsaan/Cikini dan Boplo (Boumploeg), di samping stasoin sentral Gambir yang sudah berdiri sebelumnya. Fasilitas olahraganya adalah lapangan bola Vios dan kolam renang Cikini.

Tiga gedung bioskop melayani keperluan penduduk akan hiburan, dua buah di kompleks Kebon Binatang Cikini yaitu Garden Hall dan Podium. Podium memutar film-film lama dengan teks bahasa Belanda. Pada beranda gedung bioskop terdapat bar yang dilengkapi dengan musik kamar (chombers orchestra). Bioskop yang ketiga adalah Menteng yang lokasinya bersebelahan dengan lapangan Vios. Sedangkan kompleks pertokoan ekskutif berdiri di sepanjang Jl. Sabang, Cikini, dan sekitar bioskop Menteng.

Penghuni Mentengbuurt adalah orang Belanda, baik swasta maupun pegawai tinggi Gemeente. Mereka adalah elit Batavia awal abad ke-20. Kendati di lingkungan Belanda sendiri mereka tergolong amat eksklusif. Rumah-rumah dansa paling elit seperti Societet Harmonie dan Hotel Des Indes diramaikan oleh orang-orang Menteng. Menteng menandai perubahan jaman di Hindia Belanda pasca PD I. Memiliki landhuizen (villa) yang merupakan ciri elit kolonial abad 18-19 sudah menjadi album kenangan. Eropa yang berubah pasca perang, cipratannya sampai juga di Batavia.

Belanda Totok, Belanda Kemayoran, Belanda Depok

Belanda totok adalah bule sejati, darahnya tidak bercampur dengan lain-lain orang. Belanda Kemayoran adalah Belanda pembauran. Mereka memiliki darah inlander. Hal ini berpengaruh pada gaya hidup dan pola pergaulan mereka. Gaya hidupnya tidak eksklusif, dan mereka pun bergaul secara luas baik dengan inlander maupun keturunan Tionghoa.

Zegt, Pe’, gua lagi boke, linen ik ce toen lah. Pastilah gaya bicara serupa ini tidak akan beredar di Mentengbuurt. Gaya Belanda Kemayoran ini kampungan belaka dimata orang Menteng. Dan sebutan Belanda Kemayoran ini sinonim dengan Indo, meski pun Indo tinggal di Sao Besar atau Petojo, tetap saja disebut Belanda Kemayoran. Dari analisa kelas, maka Belanda Totok di Menteng itu berbeda statusnya dengan Belanda Kemayoran. Begitu pun pola konsumsinya.

Belanda Depok adalah bukan Belanda. Mereka adalah pekerja onderneming Belanda di Cimanggis yang direkrut pada abad ke-18. Mereka yang dulu disebut budak ini didatangkan pemilik onderneming dari India Selatan dan kepulauan Sunda Kecil. Mereka menguasai sepotong dua potong perkataan Belanda. Sedikit atau banyak gaya hidup. Belanda petinggi onderneming menular pada diri mereka. Misalnya, Belanda Depok itu pantang bepergian ke luar rumah dengan sandalan saja. Penampilan Belanda Depok selalu rapi. Penampilan Belanda Depok berbeda memang dengan penduduk asli yang telah mendiami kawasan ini paling sedikit sejak 5000 SM.

Milik RI

Ketika Jepang datang tahun 1942, banyak Belanda totok di Menteng yang digiring ke kamp interniran. Rumah-rumah di Menteng sebagian kosong, sebagian dihuni pembesar Jepang. Namun Menteng tetap Menteng, aura gaya hidup eksklusif tidak ikut masuk ke kamp interniran. Meski sebagian besar bioskop di Jakarta ditutup pemerintah militer Jepang, namun 3 bioskop di Menteng tetap dibuka, begitu pun bar di bioskop Podium. Pembesar Jepang yang menjadi “bujangan lokal” itu suka mabuk-mabukan dan “doyan perempuan”.

Di jaman revolusi, Menteng terlibat. Rapat-rapat persiapan kemerdekaan dilangsungkan di Jl. Imam Bonjol, dan kemerdekaan sendiri dicetuskan di Jl. Pegangsaan yang terbilang Mentengbuurt. Pada jaman ini gaya hidup extravaganza terhenti.

Ketika revolusi fisik berakhir dengan diakuinya kedaulatan RI oleh Belanda, maka rumah-rumah di Menteng berganti pemilik lewat suatu proses yang revolusioner. Banyak rumah pemerintahan dan pentolan revolusi masuk Menteng. Di jaman ini kantor Urusan Perumahan Djakarta (UPD) bukan main sibuknya mengeluarkan VB (izin menempati), atau mengubah VB menjadi dokumen kepemilikan. Tidak sedikit pula VB yang berpindah tangan. Hingga akhirnya di tahun 1950 muncul peta demografi Menteng yang baru. Di Menteng ada mantan Belanda totok yang sudah menjadi Indo, ada elit rupa-rupa suku bangsa, dan ada pula kaum keturunan baik profesional mau pun politisi yang sukses.

Dasar Menteng, tetap saja gaya hidupnya tidak berubah. Peta demografi yang baru hasil revolusi itu tetap mempertahankan Menteng sebagai sebuah sub kultur yang elitis dengan menghamburkan aroma snobisme.

Tidak banyak lagu yang menggambarkan gaya hidup Menteng. Lagu Kisah Malam di Jalan Lembang karya Saleh Suwita bercerita tentang kawasan Jalan Lembang, yang mempunyai situ, dimana muda-mudi non Menteng kalau malam berasyik ma’syuk. Sebuah lagu pop yang muncul tahun 1958 berjudul Babu Menteng bercerita tentang babu-babu yang mengalami gegar budaya (cultural schok) lantas meniru attitude majikannya. Tendensi babu Menteng tahun 1950-an s/d 1960-an itu sekarang pun dapat dijumpai di Pondok Indah, Kemang, Pluit.

Barangkali film awal tahun 1950-an Antara Bumi Dan Langit rada sempurna menggambarkan kesenjangan budaya dan politik antara Mentengbuurt dan kawasan di luarnya. Seorang pemuda pejuang non Menteng menjalin asmara dengan pemudi Indo Menteng, keruan romantisme ini berujung pada jalan buntu. Film Juara Sepatu Roda yang dibintangi Indriati Iskak serta Tiga Dara dengan bintang Baby Huwae, Lientje Tambayong, dan Gaby Mambo produksi sekitar tahun 1960 menjadi potret snobisme Menteng. Bahkan sepatu roda itu sendiri, di luar film, merupakan symbol perubahan status sosial.

Menteng merupakan jendela untuk melongok Westernisme. Anak-anak menteng lebih dulu memakai blue jeans, jaket merah, dan jambul doyong ke kanan ketika film Rebel Without Cause-nya James Dean mencapai box office di sejumlah bioskop ibukota tahun 1957. Ketika datang Elvis Presley mengguncang muda-mudi mancanegara, Menteng pun menjadi pelopor gaya Raja Rock & Roll itu.

Rumah-rumah di Menteng sampai dengan bulan Oktober 1965 masih diwarnai dengan pesta dansa entah itu urusan jaarig, atau gengsot rutin belaka. Sehari-hari pun gramophone dari rumah-rumah di Menteng menghamburkan lagu-lagu Perry Como, Pattie Page, atau instrumental Glenn Miller ditingkah alunan irama Lautan Teduh Orkes Hawaiian Suara Istana pimpinan Tjok de Fretes. Dan kap salon masuk rumah pun di awali dari Menteng.

Di jaman Orde Lama Menteng tidak kehilangan charisma, karena banyak artis dan pagar ayu bhineka tunggal ika yang menyemarakkan kehadiran Pembesar Revolusi Bung Karno bertempat tinggal di Menteng. Bahkan putra-putri pembesar Orde Lama juga mendirikan band yang memainkan, meminjam istilah Bung Karno, lagu-lagu ngak-ngik-ngok.

Teror PKI

Tetapi Menteng bukan cuma snobisme, namun juga sentra pemikiran kaum intelektual. Balai Budaya sejak tahun 1958 tersohor sebagai tempat berkumpulnya pelukis kondang, budayawan, dan intelektual. Majalah Indonesia yang terbit dari gedung ini merupakan trend intelektual ketika itu. Menteng juga punya restoran Geliga tempat para seniman film dan musik berkumpul berbual-bual.

Menteng juga merupakan pemukiman politikus berkaliber seperti Sutan Syahrir, Mohamma Roem, Mohammad Natsir, Ruslan Abulgani, Prawoto Mangkusasmito, Subchan ZE. Maka tidak heran ketika PKI merajalela, jalan-jalan di Menteng sering mencekam karena PKI melancarkan terror ke rumah-rumah tokoh Masyumi dan PSI yang tinggal di Menteng. Bahkan Menteng sempat berdarah ketika Gestapu/PKI tahun 1965 membunuh Jendral Ahmad Yani, Pierre Tendean, pengawal A.H. Nasution, dan Ade Irma Nasution. Dan Menteng pun menjadi markas organisasi-organisasi mahasiswa penggerak Orde Baru seperti HMI, PMKRI, dan IMADA.

Sandhyakala Ning Mentheng

Tahun 1970 Menteng memasuki senja kala, meski sejak saat itu Jalan Surabaya menjadi sangat terkenal karena menjadi pasar barang-barang antik. Namun dibukanya pemukiman mewah yang baru seperti Simprug, Kemang, Permata Hijau, dan Pondok Indah membuat kharisma Menteng sebagai sentra sub kultur elitis memudar. Apalagi di pemukiman baru itu banyak warga asing bertempat tinggal, maka daerah-daerah itu berubah menjadi sepotong Paris di Jakarta.

Kini yang eye-catcher di Menteng adalah rumah mantan Presiden Suharto di Jalan Cendana, panti pijat Jalan Blora (sampai medio 1970-an), dan sop kambing Jalan Kendal (sampai tahun 1980-an). Sementara itu bangunan lama di Menteng yang merupakan peninggalan arsitektur Indisch, meski pun dilindungi ordonansi, satu persatu dirubah bentuk. Termasuk bangunan yang menjadi kantor imigrasi sempat digasak kusen-kusen dan daun pintunya oleh putera Suharto.

Menteng kini merupakan salah satu sentra kegiatan politik yang paling penting, pendemo hilir mudik di kawasan Menteng entah itu ke Komnas HAM atau ke rumah Suharto, atau kumpul di LBH. Politikus juga hilir mudik di Menteng entah untuk rapat penting PPP, atau silaturahmi ke kantor (sementara) P.B. NU (sampai Agustus 2001), atau menghadiri diskusi KAHMI, atau beraudiensi ke kediaman Wapres.

Sebagai idiom dalam pergaulan sosial, Menteng tak lagi disebut orang. Beriringan dengan itu kampung-kampung enclave Menteng seperti Menteng Pulo, Menteng Wadas dan Menteng Rawa Jelawe telah sirna diterkam developer. Daag, Menteng!!!

MADURA DI BETAWI

MADURA DI BETAWI
Ahad, 30 Mei 2010, Cengkareng rusuh. Kerusuhan yang terjadi ini melibatkan dua kelompok etnis, yaitu Betawi dan Madura. Dua etnis yang terkenal sangat religius dan fanatik dengan ajaran Islamnya ini memang kerap menghiasi berita media massa cetak dan elektronik dengan aktivitas saling bentroknya. Seakan-akan tidak ada satu pengikat di antara mereka untuk tetap menjaga keharmonisan dan saling sayang-menyayangi. Bukan rahasia lagi jika sebagian orang Betawi menganggap etnis Madura sebagai pendatang atau tamu yang tidak mengenal sopan santun dan sering membuat persoalan.
Padahal, sejarah membuktikan bahwa etnis Madura merupakan salah satu etnis yang turut membidani lahirnya etnis Betawi. Dengan kata lain, darah sebagian orang Betawi adalah darah orang Madura. Jadi, etnis Betawi dan etnis Madura sebenarnya bersaudara secara ideologis maupun genealogis. Sebagai contoh, ulama terkenal Betawi yang dijuluki “Guru Ulama Betaawi”. Yaitu Guru Marzuki, Cipinang Muara merupakan keturunan Madura dari garis ibu. Nama lengkap Guru Marzuki adalah As-syekh Ahmad Marzuki bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Khotib Sa’ad bin Abdurrohman bin Sulthon yang diberikan gelar dengan “Laksmana Malayang” dari salah seorang sultan tanah melayu yang berasal dari negeri Pattani, Thailand Selatan. Ibunya bernama Hajjah Fathimah binti Al-Haj Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur.
Namun dari rekam jejak kasus-kasus bentrok yang melibatkan dua etnis ini, khususnya di Jakarta, fakta selalu menunjukan bahwa orang Madura ah kerap menjadi pemicu, inisiator bentrok dan keributan. Walaupun pemicu ini harus tetap disebut sebagai oknum karena tidak dapat digeneralisasi ke seluruh orang Madura. Lalu mengapa orang Madura selalu menjadi tertuduh sebagai biang pembuat kerusuhan?
Menurut hasil penelitian Saiful `Ala, intelektual muda Madura yang bermukim di Jakarta, pandangan atau tudingan bahwa orang Madura kerap menjadi pemicu bentrok tidak dapat disalahkan. Ia membagi orang Madura ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat religiusitas dengan istilah yang merujuk ke Clifford Geertz, yaitu kelompok santri dan kelompok abangan. Menurutnya, orang-orang Madura pertama yang merantau ke beberapa tempat di Nusantara, khususnya ke tanah Betawi, berasal dari kalangan santri. Mereka, walaupun rata-rata berprofesi sebagai pedagang, namun memiliki ilmu agama yang cukup atau mumpuni sehingga sebagian besar mereka dikenal sebagai juru dakwah yang handal ulama terkenal. Mereka adalah pribadi-pribadi yang santun dan toleran sehingga dengan mudah dapat diterima oleh penduduk asli. Kelompok ini masih mendominasi sampai kira-kera era 80-an akhir. KH. Syukron Makmun, pimpinan Pondok Pesantren Darrurahman, Jakarta Selatan dan almarhum KH. Hasan Bisri, Jakarta Utara merupakan contoh terbaik dari kelompok santri ini. Mereka berdua adalah ulama terkenal yang mumpuni. Tidak sedikit santri-santrinya yang berasal dari Betawi dan menjadi ustadz, ustadzah, dan ulama Betawi terkenal, seperti KH. Zuhri Yakub, sekretaris umum FUHAB (Forum Ulama dan Habaib Betawi) yang pernah merasakan didikan dari KH. Syukron Makmun.
Dominasi kelompok santri ini di Jakarta kemudian redup ketika kelompok abangan secara bergelombang datang. Mereka, masih menurut Saiful `Ala, rata-rata tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah dan bukan berasal dari kalangan santri. Mereka datang ke Jakarta karena tertarik dengan kesuksesan hidup dari saudara, kerabat atau tetangganya yang mereka lihat setiap lebaran, setiap datang ke kampung halaman. Mereka datang tanpa modal yang cukup bahkan nyaris tanpa modal atau modal nekat saja. Bukan hanya itu, mereka membawa watak kekerasan dalam interaksi sosialnya. Kelompok inilah yang menurut Saiful `Ala yang menjadi pemicu bentrok atau konflik antar etnis, bukan hanya di Jakarta, tapi di tempat-tempat lain di Indonesia, seperti peristiwa yang terjadi di Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1999 yang silam. Hal ini tentu saja sangat merugikan etnis Madura secara keseluruhan. Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh tokoh dan ulama asal Madura agar hal ini tidak terulang. Namun, berkali-kali terjadi kembali. Sepertinya, memang harus ada solusi yang komprehensif dengan melibatkan seluruh komponen anak bangsa karena etnis Madura adalah bagian dari bangsa ini, bahkan sangat berperan besar dalam sejarah penyebaran dan perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di tanah Betawi.
Karenanya, dalam rangka HUT Kota Jakarta ke-483 ini, Jakarta Islamic Centre menggelar kegiatan Pekan Islam Jakarta di mana salah satu kegiatannya adalah seminar dengan tema Menakar Peran Etnis Nusantara dalam Pembentukan Etnis Betawi dan Menjaga Keharmonisan Masyarakat Jakarta yang Multi Kultural pada hari Rabu, 23 Juni 2010. Salah satu sesinya akan membahas tentang Etnis Madura di Betawi yang bertujuan untuk menghasilkan saling kesepahaman dan mengharmoniskan kembali hubungan kedua etnis ini yang akhir-akhir ini nyaris hilang. * * *

" KAMPUNG KITE KALO BUKAN KITE YANG BANGUN SIAPE LAGI"

" KAMPUNG KITE KALO BUKAN KITE YANG BANGUN SIAPE LAGI"
Macam kesenian Betawi
Sebagai Orang Betawi seharusnya kita bangga akan beragam budaya dan kesenian Betawi. Banyak sekali seniman seniman Betawi yang berjasa mempopulerkan kesenian Betawi khususnya kesenian tradisionalnya. Lihat saja seperti sang Maestro Alm. H. Benyamin.S , dengan gambang kromongnya, Alm. bokir dengan kesenian lenong nya,mpok Nori, dll.

Nah, Sebagai Putra Daerah, ayo kita harus lebih mengenal apa saja budaya Betawi itu, dalam bentuk kesenian tradisional tersebut? Nyok kite kenal lebih jauh…

ONDEL-ONDEL

Entah mengapa diberi nama Ondel-ondel. Yang pasti, setiap ada gelaran hajatan di kalangan warga Betawi, arak-arakan ondel-ondel seperti tak pernah ketinggalan. Baik hajatan besar maupun sekedar pesta sunat anak.

Boneka besar setinggi sekitar 2 meter tersebut memang dipercaya sebagai simbol nenek moyang yang menjaga anak-cucunya yang masih hidup. Dengan kata lain, ondel-ondel juga dipercaya untuk mengusir roh jahat setiap ada hajatan. Bagian wajah berupa topseng (disebut kedok), sementara rambut kepalanya dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki dicat warna merah, sedangkan yang perempuan dicat dengan warna putih.

Keberadaan ondel-ondel yang kerangkanya dibuat dari bambu itu saat ini sudah mulai bergeser. Kadang hanya digunakan sebagai pajangan di kantor-kantor, hotel-hotel, atau tempat-tempat umum setiap bulan Juli tiba.

GAMBANG KROMONG

Setiap mendengar gambang kromong ingatan kita langsung tertuju pada musik khas Betawi. Tapi sejarah musik ini awalnya dipengaruhi beberapa unsur musik Cina, yaitu dengan digunakannya alat musik gesek berupa kongahyan, tehyan, dan skong.

Sementara alat musik asli pribumi dalam gambang kromong berupa gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong. Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong tidak lepas dari seorang pimpinan golongan Cina yang bernama Nie Hu-kong.

Tak heran, sebuah grup gambang kerap memainkan lagu-lagu Cina yang biasanya dibawakan secara instrumental. Konon, sekitar abad ke-delapan belas warga Batavia (Jakarta) sangat menyukai permainan musik, lantaran itulah tidak sedikit peranakan Tionghoa yang menggabungkan permainan bermacam-macam alat musik dikolaborasikan dengan tari-tarian cokek.

LENONG BETAWI

Lenong adalah teater rakyat khas Betawi yang dikenal sejak tahun 1920-an. Sejak awal keberadaannya, diiringi dengan musik gambang kromong. Dalam dua Lenong dikenal dua jenis cerita yaitu Lenong Denes (bercerita tentang kerajaan atau kaum bangsawan) sementara Lenong Preman berkisah tentang kehidupan rakyat sehari-hari ataupun dunia jagoan.

Lenong Denes sendiri adalah perkembangan dari bermacam bentuk teater rakyat Betawi yang sudah punah, seperti wayang sumedar, wayang senggol ataupun wayang dermuluk.

Sementara lenong preman disebut-sebut sebagai perkembangan dari wayang sironda.
Yang cukup signifikan dalam perbedaan penampilan kedua lenong tersebut, Lenong Denes umumnya menggunakan bahasa Melayu halus, sedang Lenong Preman rata-rata menggunakan bahasa Betawi sehari-hari.

Beberapa seniman Lenong Betawi terkenal yang lahir dan terkenal dari kesenian ini cukup banyak. Sebut saja H. Bokir (alm), Mpok Nori sampai Mandra. Namun tokoh dalam bidang ini siapa lagi kalau bukan H.M. Nasir T (Bang Nasir).

TANJIDOR

Selain mendapat pengaruh dari budaya Cina, kesenian Betawi dipengaruhi oleh beragam budaya dari Eropa. Orkes Tanjidor, misalnya, mulai ada sejak abad ke-18. Konon salah seorang Gubernur Jenderal Belanda, Valckenier menggabungkan rombongan 15 orang pemain alat musik tiup Belanda dengan pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turki untuk memeriahkan pesta.

Tak heran, secara sepintas, bunyi orkes Tanjidor sangat mirip dengan lagu-lagu dalam kelompok marching band, tapi lagu-lagu barat berirama imarsi maupun wals yang dimainkan oleh para pemain tanjidor sudah sulit dilacak asal-usulnya, mengingat sejak awal keberaadannya dikembangkan sesuai selera sekaligus kemampuan ingat para juru panjaknya dari generasi ke generasi.

Sampai saat ini, Tanjidor masih ditampilkan untuk menyambut tamu, memeriahkan arak-arakan atau mengiringi pengantin. Namun dalam perayaan HUT Jakarta biasanya ditampilkan sebagai salah satu peserta festival. Menyebut Tanjidor, tampaknya identik dengan tokohnya, Marta Nya’at.

KERONCONG TUGU

Pernah dengar keroncong tugu? Ini adalah musik Betawi yang banyak mendapat pengaruh dari budaya Barat khususnya dari Eropa Selatan. Sejak abad ke-18 musik ini berkembang di kalangan warga Tugu, mereka adalah masyarakat Jakarta keturunan Mardijkers atau bekas anggota tentara Portugis yang dibebasin dari tawanan Belanda. Setelah memeluk agama Kristen, mereka ditempatkan di Kampung Tugu, yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Koja Jakarta Utara. Di kampung tersebut, terdapat gereja yang dibangun tahun 1600-an.

Musik keroncong tugu sendiri biasanya dibawakan oleh warga Tugu sejak tahun 1600-an setiap malam bulan purnama, sambil bergerombol menikmati malam bulan purnama di pinggir sungai, ataupun dibawakan untuk mengiringi lagu-lagu gereja dalam acara kebaktian. Alat-alat musik keroncong tugu sejak awal dilahirkan terdiri dari keroncong, biola, ukulele, banjo, gitar, rebana, kempul dan selo.

ORKES GAMBUS

Budaya Timur Tengah ternyata juga memiliki pengaruh kuat dalam khasanah Betawi, hal ini terbukti bahkan sampai saat ini di seantero Jakarta terdapat puluhan grup orkes gambus. Orkes ini biasanya ditampilkan di acara pesta perkawinan untuk mengiringi para penyanyi gambus baik laki maupun perempuan. Mereka biasanya membawakan lagu-lagu gambus dengan lirik religius maupun lagu-lagu cinta berbahasa Arab.

Agar lebih semarak, saat musik gambus sedang dimainkan, biasanya ada beberapa penari zapin yang terdiri dari beberapa orang laki-laki. Walaupun dalam perkembangannya, terkadang juga melibatkan beberapa penari perut (belly dancer) perempuan sebagai daya tarik. Mungkin lantaran grup musik gambus selalu identik dengan pesta pernikahan warga etnis Betawi, grup musik gambus masih tumbuh subur di Jakarta, lantaran peminatnya masih saja ada.

Bahkan beberapa artis gambus kerap lahir lantaran jam terbangnya dari pesta ke pesta cukup/sangat tinggi. Salah seorang tokoh musik gambus di Jakarta, Munif Bahaswan, mengakui, dibanding musik dangdut, musik gambus kurang diminati di luar etnis Betawi, Arab dan India.

REBANA

Selain musik gambus, masih ada musik Betawi yang dipengaruhi budaya Timur Tengah. Musik rebana misalnya, adalah musik khas Betawi yang bernafaskan Islam. Macam musik rebana sendiri demikian banyak, digolongkan sesuai alat musik maupun syair-syair yang dibawakan oleh para pemain musiknya.

Jenis-jenis musik rebana, misalnya rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor juga rebana biang. Biasanya, musik rebana (khususnya rebana biang) digunakan untuk memeriahkan pesta maupun arak-arakan. Tokoh rebana adalah H. Abdul Rahman.

ORKES SAMRAH

Orkes samrah adalah kesenian Betawi dalam bentuk orkes yang mendapat pengaruh suku Melayu. Lagu-lagu yang biasa dibawakan dalam ini adalah lagu-lagu jadul (jaman dulu), seperti lagu Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, juga lagu Cik Minah. Orkes samrah juga biasa dipakai mengiringi lagu-lagu khas Betawi semacam Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung dan lain-lain.

Sementara tarian yang biasa diiringi orkes samrah disebut Tari Samrah. Biasanya, para penari samrah menari berpasang-pasangan, dengan gerakan tari bermacam-macam, yang salah satunya dipengaruhi oleh gerakan silat. Tak heran, dalam silat Betawi juga dikenal beragam gerak yang lemah gemulai. Tokoh dalam bidang musik samrah adalah Ali Sabni.

TARI SILAT

Tari silat adalah tarian yang keseluruhan gerakannya diambil dari gerak pencak silat. Tari ini diiringi oleh tetabuhan khusus yang disebut gendang pencak, gambang kromong, gamelan topeng dan lain-lainnya. Di kalangan masyarakat Betawi sendiri dikenal bermacam aliran silat, sebut saja aliran Kwitang, aliran Tanah Abang maupun aliran Kemayoran.

Sementara gaya dalam tari silat yang paling terkenal disebut gaya seray, gaya pecut, gaya rompas serta gaya bandul. Tari silat Betawi sendiri menunjukkan aliran atau gaya yang diikuti oleh masing-masing penari. Selain tari silat, Betawi juga memiliki banyak tari-tarian lain.

TARI TOPENG

Tari Topeng adalah visualisasi gerak, yang dibuat nenek moyang tanpa melalui konsep. Ada pengaruh budaya Sunda, namun memiliki ciri khasnya berupa selancar. Para penarinya menggunakan topeng yang mirip dengan Topeng Banjet Karawang Jawa Barat, namun dalam topeng betawi memakai bahasa Betawi.

Dalam topeng betawi sendiri ada tiga unsur: musik, tari dan teater. Tarian dalam topeng betawi inilah yang disebut tari topeng. Salah seorang tokoh seniman Betawi yang telah mengusung aneka tari-tarian Betawi khususnya tari topeng hingga ke manca negara adalah Entong Kisam. Dirinya sudah berkeliling ke 5 benua, serta 33 negara. Negara yang paling sering ia lawati bersama grup tari topengnya adalah Perancis, Cina dan Thailand.

TOPENG BETAWI

Budaya Sunda ternyata juga mempengaruhi budaya Betawi. Salah satunya dalam kesenian Topeng Betawi, yaitu teater rakyat Betawi yang sangat digemari oleh masyarakat etnis Betawi sebab dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sosial. Salah satu lakon topeng Betawi yang terkenal berjudul Bapak Jantuk.

Lakon ini mengandung banyak petuah seperti nasehat-nasehat tentang kehidupan berumah tangga. Dalam teater ini digunakan musik pengiring yang disebut gamelan topeng. Salah seorang tokoh budaya Betawi dalam bidang Topeng Betawi, adalah Mpok Nori.

WAYANG BETAWI

Salah satu produk budaya Betawi hasil akulturasi dari budaya Jawa dan Sunda adalah wayang. Namun demikian, pengaruh Sunda lebih tampak dalam kesenian ini. Mungkin secara geografis memang lebih dekat. Misalnya dalam hal penggunaan bahasa. Dalam wayang digunakan bahasa Betawi campur Sunda.

Dalam dunia pewayangan Betawi dikenal dua jenis wayang: Wayang Kulit (dalang terkenalnya H. Surya Bonang alias Ki Dalang Bonang), serta Wayang Golek (dalang terkenalnya Tizar Purbaya). Umumnya, wayang Betawi mengambil lakon tentang kehidupan kerajaan di dunia pewayangan. Ada pula tokoh komedi Udel (persamaannya Cepot di dalam Sunda).

Musik iringan dalam wayang Betawi sama halnya dengan gamelan topeng, berupa musik gamelan Sunda campur Betawi, dengan ciri khas alat musik tehyan (sebagai ciri khas Betawi) yang disebut gamelan ajeng.

PEMERINTAH.Jangan Lupakan Betawi

Jangan Lupakan Betawi
Pada peringatan Maulid Nabi di Jakarta Islamic Centre (JIC) hari Senin, 9 Maret 2009, dalam sambutannya, dr. H. Djailani selaku kepala BP JIC menyampaikan kerisauannya terhadap banyaknya penulisan sejarah Islam di Indonesia yang tidak mengangkat Betawi. Beliau mencontohkan buku berjudul Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara yang merupakan kumpulan tulisan dari para sejarahwan dan cendikiawan muslim terkemuka di Indonesia. Di buku tersebut, tidak satu pun dari penulis yang mengulas tentang sejarah dan perkembangan Islam di Betawi dan pengaruhnya dalam pembentukan Indonesia modern.
Ketiadaan ini bisa dimaklumi karena mungkin data yang dimiliki oleh para penulis tersebut sangat minim atau memang refrensi tentang Islam di Betawi yang beredar masih sangat sedikit dan kurang layak untuk dijadikan rujukan oleh mereka. Padaha tempat di mana etnis Betawi tinggal, Sunda Kelapa atau Batavia, merupakan sentra pemerintahan kolonial di Indonesia, tempat di mana sebagian besar sejarah bangsa ini diukir sampai hari ini. Bahkan menurut Ridwan Saidi pada acara Halaqah Betawi Corner yang diselenggarakan di JIC , orang Betawi lah, yaitu Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin (abad ke-14), yang memperkenalkan bendera merah putih, bendera negara Indonesia sekarang ini. Dalam melawan penjajah, orang Betawi sangat gigih, sejak zaman JP Coen sampai zaman pra kemerdekaan. Kisah si Pitung dan Entong Gendut begitu melegenda. Bahkan tidak sedikit ulama Betawi yang terlibat dalam revolusi fisik 1945, sebut saja Guru Thabrani (Paseban), Guru Manshur (Jembatan Lima), Kyai Rahmatullah Sidik (Kebayoran) Kyai Syam’um ( Kampung Mauk), Muhammad Ali Alhamidi ( Matraman ) dan KH. Noer Alie (Bekasi) yang atas jasanya telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Muhammad Al Alhamidi menjadi imam dan khatib shalat Idul Fithri tahun 1945 di Jl. Pegangsaan di bawah kepungan bala tentara Dai Nippon. Guru Manshur Jembatan Lima memasang Merah Putih di atas menara masjid Jembatan Lima. Dan tidak mau menurunkan bendera Merah Putih walau tentara Belanda memberondong menara masjid dengan peluru. Bahkan Guru Manshur berseru kepada penduduk, ”Betawi, Rempug !”, orang Betawi soliderlah!. Sebagian mereka bukan hanya pejuang, tetapi juga intelektual. Masih menurut Ridwan Saidi, Muhammad Ali Alhamidi pernah berguru pada Habib Ali Kwitang. Beliau penulis produktif. Beliau mempunyai jasa besar menulis naskah khutbah Jum’at dalam huruf Arab bahasa Melayu sejak tahun 1946 hingga akhir hayatnya pada akhir tahun 1980-an. Ali Alhamidi sering keluar masuk penjara. di dalam penjara pun ia menulis naskah khutbah. Ia menulis buku yang jumlahnya tidak diketahui, yang diketahui antara lain Godaan Syetan, Wahyu Mimbar, dan Pernikahan dalam Islam. Guru Manshur lahir tahun 1880-an dan wafat tahun 1967. Ia ulama falaq yang menulis 19 kitab antara lain : kitab Hisab, Ijtima dan Gerhana, dan Sullam An-Nayyirain. Kitab terakhir ini begitu terkenal dan digunakan sebagai rujukan untuk mempelajari ilmu falak di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia dan beberapa lembaga pendidikan Islam di Malaysia sampai hari ini. Pada awal kemerdekaan Muhammad Syah Syafii, Pasar Baru, Menulis kitab Hadyur Rasul. Tidak diketahui apakah itu satu-satunya karya tulisnya atau ada yang lain.
Jika dirunut ke belakang lagi, Ulama atau orang Betawi terdahulu lainnya yang memiliki karya besar juga cukup banyak. Misalnya putera Guru Safiyan atau Guru Cit, Muhammad Bakir dan Achmad Beramka, keponakannya, adalah pengarang yang amat terkenal. Keduanya menulis pada tahun 1880-an hingga 1910-an. Dari 30 karya Muhammad Bakir dua diantaranya yaitu Hikayat Anak Pengajian dan Hikayat Syekh Kadir Jaelani Achmad Beramka menulis karangan dalam jumlah yang sama dengan Muhammad Bakir. Karya-karya mereka sebagian besar tersimpan di Leningrad, London, Inggris dan Leiden, Belanda. Cing Sa’dullah adalah pengarang yang menulis sejak pertengahan abad ke-19. Meskipun ia menulis buku-buku kesusastraan tetapi tetap bernafaskan Islam.
Setelah kemerdekaan, memang penulisan kitab-kitab agama oleh ulama tidak seramai pada era sebelumnya. Ledakan karya ulama intelektual Betawi terjadi pada pertengahan abad ke-19 hingga dasawarsa pertama abad ke-20. Hal ini, masih menurut Ridwan Saidi, kemungkinan besar disebabkan sulitnya mendapatkan kitab-kitab agama dari Timur Tengah. Pemasok kitab-kitab agama di masa itu dari Timur Tengah yang dapat diketahui hanya Guru Mujtaba.
Setelah kemerdekaan tidak terlalu sulit lagi mendapatkan kitab-kitab dari Timur Tengah dibanding sebelumnya. Tetapi ini salah satu faktor saja. Tentu ada faktor-faktor lain yang menyebabkan menurunnya karya tulis ulama Betawi. Walaupun demikin, kitab-kitab yang dikarang oleh ulama Betawi pasca kemerdekaan ini sangat berkualitas. Sebagai contoh adalah kitab Mishbah Adz-Dzullaam karya Syaikh KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Bulughul Maram karya al-Hafizh lbnu Hajar al-'Asqolani yang merupakan kumpulan hadits yang banyak dijadikan istinbath hukum fikih oleh para fuqaha yang disertai keterangan derajat kekuatan hadits. Jika kitab Bulughul Maram hanya satu jilid, kitab syarah ini terdiri atas delapan jilid yang ditulis dalam bahasa Arab tanpa harakat yang sampai saat ini belum diterjemahkan dan masih dijadikan kitab kajian beberapa majelis taklim di Jakarta dan di luar Jakarta. Kitab lainnya adalah Taudhih al-Adillah karya mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab yang ditulis dalam bahasa Indonesia ini merupakan kitab fiqih yang membahas persoalan-persoalan kontemporer yang isinya tentu saja masih sangat relevan untuk dijadikan rujukan dalam memecahkan persoalan fiqih yang muncul. Yang juga sangat monumental adalah kitab Al-Imam As-Syafi`i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid karangan Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam, keturunan Guru Mughni (Kuningan, Jakarta Selatan), yang telah diterjemahkan oleh JIC dengan judul Ensiklopedia Imam Syafi`i. Kitab yang merupakan disertasi beliau dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi`i. Bahkan menurut Syaikh KH. Saifuddin Amsir, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi`i di dunia Islam yang selengkap karya Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini.
Dan dari penjelasan di atas, kita mengetahui banyak banyak karya ulama dan cendikiawan Betawi, baik yang terdahulu maupun sekarang, yang berkualitas yang sebagian besar, seperti karya-karya Muhammad Bakir dan Achmad Beramka tidak ada lagi di tanah air melainkan berada jauh nun di sana, di negara-negara Eropa, yang tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait membawanya pulang kembali, untuk ditahqiq, termasuk diterjemahkan, dan disosialisasikan sehingga menjadi bagian kekayaan khazanah Islam Indonesia. Selain karya, kita melihat juga bahwa peran mereka dalam mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan sehingga menjadi Indonesia sekarang ini juga begitu besar. Jika seperti ini, masihkah Betawi dilupakan dalam penulisan sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia?

Jagoan Versus VOC

Jagoan Versus VOC
By Alwi Shahab

Jakarta sejak awal abad ke-19 syarat dengan jagoan atawa jawara. Ketika itu, di tiap kampung terdapat sejumlah jagoan. Jagoan dari kata Portugis jago. Maklum, negara di Eropa Selatan ini adalah pedagang dari Eropa pertama yang datang ke Sunda Kalapa. Jauh sebelum Belanda dan bangsa Barat lainnya.

Portugis telah datang ke daerah ini sejak Sunda Kalapa berada di bawah kekuasaan Pajajaran (Hindu) yang berpusat di Pakuan (Bogor). Kala itu, Sunda Kalapa begitu terkenal. Berbagai komoditi dari seluruh kerajaan dikumpulkan di Bandar Sunda Kalapa.

Tom Pires, seorang petualang, ketika itu menyebutkan, dalam perdagangan dipergunakan mata uang (logam) yaitu cash dari Cina. Uang-uang tersebut dilubangi di tengahnya seperti caiti, sehingga dapat diikat dengan benang dalam jumlah ratusan.

Naskah Sang Hyang Siksakandang Karesian menyebutkan ada lapisan masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok ekonomi, rohani dan cendekiawan, alat negara, dan seniman. Dalam naskah itu disebutkan ada 10 kebaktian. Yakni anak bakti pada bapak, istri bakti pada suami, rakyat kepada pacandaan (majikan), murid bakti pada guru, petani bakti kepada wado (pejabat rendahan), pejabat rendahan bakti kepada mantri, mantri bakti kepada mangkubumi, mangkubumi bakti kepada raja, raja bakti pada dewata, dan dewata bakti pada Hyang.

***
Kerajaan Pajajaran berakhir bersamaan ketika Fatahillah mengusir Portugis dari Teluk Jakarta. Setelah masa Jayakarta (1527-1609), VOC berkuasa di Batavia. Sampai abad ke-19 pusat kota ada di Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Kediaman Rainier de Klerk (dibangun 1760), terletak hanya sekitar 200 meter dari pusat perdagangan dan perbelanjaan Glodok, ketika itu. Sedangkan Gedung Arsip Nasional terletak jauh di luar kota. Demikian pula dengan Gereja Portugis di depan stasion kota terletak di luar kota Batavia.

Kala itu para pembesar Belanda membangun rumah-rumah besar untuk menikmati akhir minggu di vila-vila besar di sekitar Harmoni dan Jalan Pangeran Jayakarta. Sementara, para pejabat berlomba-lomba membeli tanah di ommenlanden (jauh dari pusat pemerintahan).

Cornelis Chastelin, saat itu, memiliki ribuan hektar tanah dari Tanjung Barat, sampai Srengseng Sawah dan Depok. Masih belasan lagi petinggi VOC yang memiliki tanah bejibun di luar pusat pemerintyahan.

***
Sejak masa gubernur jenderal Daendels (1808-1811) untuk keperluan pertanahan dia melelang tanah-tenah dan berlangsung terus pada para penggantinya. Tanah-tenah itu kemudian dijual lagi pada tuan tanah yang menyewakannya kepada para petani penggarap. Di dalam sebuah kerajaan raja dianggap sebagai pemilik tanah dan petani yang menggarapnya sebagai hamba yang harus menuruti perintah raja.

Para tuan tanah itu melakukan kekerasan apabila perintahnya tidak ditaati. Mereka menggunaan polisi dari satuan VOC, mandor dan centeng-centeng untuk menyiksa rakyat yang tak berdaya. Karena itu, para petani banyak melakukan perlawanan.

Cerita-cerita tentang jagoan Betawi yang populer seperti Si Pitung, Si Jampang Jago Betawi, Nyai Dasima, Tuan Tanah Kedaung, Macan Kemayoran, dan Si Ayub dari Teluk Naga, sudah dikenal melalui lenong, bahkan sudah dilayarlebarkan.

Mereka adalah para jawara Betawi atau pahlawan rakyat yang berhasil membasmi tuan-tuan tanah dan kaki tangannya. Cerita-cerita Betawi itu mengandung apa yang disebut ‘tema abadi’, yakni cerita-cerita yang mengandung ajaran bahwa betapapun yang jahat itu pasti akan dikalahkan atau dihancurkan oleh yang benar.

Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, para jawara atau jagoan Betawi mempunyai kesejarahan panjang. Bahkan, lebih tua dari ulama sendiri, yakni sejak abad ke-2 Masehi dengan tokoh Aki Tiurem. Nama-nama jagoan seperti Bang Puase, Pitung, Haji Ung, Ja’man, H Entong Gendot, Mad Djaelani, Mat Item, Imam Syafi’ie, Ahmad Benyamin alias Mad Bentot, Bir Ali dan Asenie adalah jagoan-jagoan yang memiliki kenangan tersendiri bagi masyarakat Betrawi.

***
Pada masa VOC banyak lahir para jawara yang ahli main silat atau giksaw. Untuk itu, bagi masyarakat Betawi mempelajari ilmu silat adalah suatu kamustian. Seperti halnya rakyat Jawa mengharapkan kedatangan Ratu Adil, demikianlah rakyat Betawi mengharapkan datangnya seorang jawara. Mereka yakin jawara atau jagoan yang akan melepaskan mereka dari kaum penindas yang sewenang-wenang.

Tidak sedikit para jagoan Betawi yang dengan gagah berani menghadapi VOC. Seperti si Pitung, jagoan Betawi kelahiran Rawabelong. Di kawasan Rawabelong inilah pada akhir abad ke-19, si Pitung, anak seorang petani pasangan Piun dan Pinah, membuat Kompeni di Betawi tidak pernah tenang.

Pitung dan kawan-kawannya menyatakan perang terhadap kompeni dan dendam yang telah ia wariskan sejak kecil. Belajar silat pada seorang guru silat terkenal di Rawabelong, H Naipin, dia berhasrat ingin menolong rakyat dari penindasan.

Kompeni terpaksa memutar otak untuk menaklukkan Pitung. Tidak tanggung-tanggung, Schout (kepala Polres) Heyne sendiri yang memimpin pasukan untuk menangkap Pitung. Konon, hanya dengan peluru emas, Pitung baru berhasil dirubuhkan dalam suatu penggrebekan.