Sabtu, 07 Januari 2012

KH Abdullah Syafii

Orang Jakarte, siapa yang tak kenal nama KH Abdullah Syafii (alm) dan Perguruan Assyafi’iyah. Sedangkan bagi penduduk Jakarta, setidaknya mengenal nama ulama kharismatis ini sebagai nama jalan terusan Casablanca-Tebet Jakarta Selatan. Syahdan, dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syaikh Junaid, seorang ulama Betawi, menuju Mekah. Di sana ia bermukm dengan menggunakan nama al-Betawi. Kefasihannya amat termashur karena beliau dipercaya menjadi imam Masjidil Haram. Syaikh Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syaikh kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini. Syaikh Junaid mempunyai dua putera dan puteri. Salah satu puterinya menikah dengan Abdullah al Misri, seorang ulama dari Mesir, yang makamnya terdapat di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Seorang puteri lainnya menikah dengan Imam Mujitaba. Sedangkan kedua puteranya, Syaikh Junaid As’ad dan Arsyad, menjadi pelanjut ayahnya mengajar di Masjidil Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun. Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syaikh Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putera Syarif Hidayatullah). Karenanya, setiap haul Syaikh Nawawi, selalu dibacakan fatihah untuk arwah Syaikh Junaid. Imam Mujitaba, yang menetap di Mekah, menikah dengan putri Syaikh Junaid. Pasangan ini menurunkan Guru Marzuki, tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Karena alimnya, guru Mujitaba diberi gelar waliyullah oleh masyarakat Islam di tanah suci. Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, Guru Mujitaba satu angkatan dengan mukimin Indonesia lainnya seperti Syaikh Nawawi al Bantani dan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Sedangkan putera almarhum guru Marzuki, yang hingga kini memiliki perguruan di Rawabunga, Jakarta Timur, mendapat gelar birulwalidain karena begitu berhidmatnya kepada kedua orang tuanya. Guru Marzuki memiliki sejumlah murid yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Indonesia. Salah satunya adalah KH Abdullah Syafi’ie, yang mendirikan dan mengembangkan Perguruan Assyafiiyah dengan sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi. KH Abdullah Sjafi’ie (wafat 3/9-1985) bersama putera-puterinuya menangani 63 lembaga pendidikan Islam. Sedangkan masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang dibangun pada 1933 saat kyai berusia 23 tahun, merupakan masjid yang megah hingga sekarang. Semuanya berawal dari mushola bekas kandang sapi, yang dijadikan cikal bakal Perguruan Asyafiiyah. Kini pengajian Ahad pagi di Masjid Ak-Barkah selalu yang diikuti ribuan jamaah. KH Abdullah Syafi’ie perguruannya menghasilkan ribuan orang diantara mereka kini menjadi tokoh agama dan pimpinan majelis taklim di berbagai tempat di Indonesia. KH Abdullah Syafi’ie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri beliau tercermin betul warna NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu. Di bidang politik, beliau pada Pemilu 1955 berkampanye untuk partai Masyumi. Nama Pesantren Ajaran birulwalidain dari Guru Marzuki, juga diwariskan KH Abdullah Syafi’ie kepada putranya, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii. Salah satu tanda baktinya kepada ayahanda, KH Abdul Rasyid memberi nama pesantren yang didirikannya di Pulo Air, Sukabumi, sebagai Pesantren KH Abdullah Syafi’ie. Dirintis pada 1990-an, Pesantren al Qur’an tersebut berdiri di atas tanah wakaf pengusaha restauran Sunda, Haji Soekarno (alm). Tanah itu awalnya berupa taman rekreasi Pulo Air seluas 3,3 hektar. Pertama kali dibuka, jumlah santrinya hanya 13 murid SD. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perkembangannya kini sungguh amat pesat. Sekarang saja Pesantren KH. Abdullah Syafii telah menempati tanah seluas 27 ha dengan sarana bangunan yang dimiliki terbilang lengkap. Santrinya lebih dari 650 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan pernah ada yang berasal dari Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, maupun dari Jeddah, Saudi Arabia. Selain belajar dan Menghafal al Quran mereka pun belajar pengetahuan umum yang diajarkan mulai dari TK, SD, SMP, SMU. Demikianlah warna pesantren KH. Abdullah Syafi’i, ia memadukan gaya pesantren hafidz Qur,an dengan sekolah umum. Untuk meningkatkan imtaq dan iptek para santrinya ini, pengelola pesantren tidak setengah-setengah mewujudkannya. Tiap sekolah yang berada di bawah koordinasi pondok telah menyediakan laboratorium tersendiri di bidang fisika, komputer dan bahasa. Pesantren ini juga memiliki sarana asrama yang amat bersih, juga masjid yang cukup memadai di tengah kampus. Dalam dua tahun terakhir ini malah telah berdiri stasion radio FM Pulo Air . Pekan lalu, wartawan Suara Islam sempat bermalam di sana. Pagi hari jam 04.00 WIB, kehidupan pesantren sudah mulai menggeliat. Santri-santri cilik sudah mulai dibangunkan (sebagian bahkan ada santri balita). Air jernih Pulo Air segera mengguyur badan hangat santri yang segera berbenah ke masjid menyongsong panggilan adzan subuh. Suasana ritual khas pesantren segera hadir, mulai dari shalat berjamaah subuh dan wirid-wiridnya, disusul penghafalan Qur’an oleh seluruh santri di sudut-sudut halaman dan ruangan yang tersedia. Menghafal al Quran ini memang merupakan ciri khas dari Pesantren al-Qur’an KH. Abdullah syafi’ie. Kini telah ratusan orang diwisuda, di antaranya hafal sampai 30 juz penuh. Sebagian dari para alumni mulai dikenal di berbagai universitas Islam di berbagai negara seperti di Mesir, Madinah dan negara Timur Tengah lainnya. Pesantren ini lokasinya di pinggir lintas Jalan Raya Sukabumi ke arah Cianjur kilometer 10. Panoramanya sungguh menawan. Dinaungi cuaca sejuk lereng Gunung Gede. Dari dalam tanah menyembul sejumlah titik sumber air jernih dengan debit air jutaan meter kubik yang seolah tiada batasnya. Wajar saja bila Pesantren KH. Abdullah Syafi’ie ini merupakan pesantren yang air bersihnya terkaya di seluruh Indonesia. Selain itu, warna Assyafi’iyah dan Betawi yang khas akan terasa gaungnya saat Pesantren KH. Abdullah Syafi’ie mengadakan acara tahunannya berupa Wisuda Santri dan Haul yang biasanya digelar setiap bulan September. Acara Haul KH. Abdullah Syafii yang ke 21 dan HUT Pesantren yang ke 16 akan diselenggarakan pada 3 September 2006 bersamaan 10 Syaban 1427 H. Seperti tahun yang sudah-sudah, beberapa pejabat tinggi negara akan hadir. Kali ini dikabarkan akan hadir Menag Maftuf Basyuni, Ketua Mahkamah Konstitusi Pro. Dr. Jimly Asshiddiqie SH, deretan tokoh Islam, habaib, ulama, juga orang tua santri dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Yang istimewa tentulah hadirnya jamaah Assyafi’iyah yang sengaja datang dari seluruh pelosok Jakarta dan sekitarnya. Lebih seratus bus besar Hiba diperkirakan akan memenuhi jalan sepanjang Jagorawi hingga ke Sukabumi-Cianjur.Tak ayal seperti tahun-tahun yang lalu konvoi bus berbagai majlis talklim ibukota ke arah Pulo Air ini memacetkan jalan ke arah Sukabumi. Suasana Haul Wafatnya KH.Abdullah Syafi’i dan Wisuda Santri ini dipadukan dengan acara Maulud Nabi dan Isra-Mi’raj. Sementara itu jamaah yang datang ke lokasi pesantren benar-benar akan mendapatkan rekreasi. Anak-anak dengan sukacitanya akan berlari-larian di komplek pesantren, sebagian lain mandi ke kolam renang di dua lokasi terpisah. Sementara di panggung acara yang disesaki puluhan ribu jamaah, tekun mengikuti acara resmi. Pidato-pidato pejabat tinggi, ulama, habaib bagai memindahkan suasana di Bali Matraman dengan Tabligh akbarnya ke Pulo Air.Tak pelak suasana berwarna khas Betawi kini merambah Puloair Sukabumi. Bedanya, acara di Pulo Air ini dipadu dengan penampilan para santri dalam kemahirannya melafadzkan ayat-ayat al Qur’an. Bahkan dengan demonstrasi hafal 30 juz, kemahiran santri berpidato bahasa Inggris, Arab, Indonesia, dan berbagai atraksi seni lainnya. Seperti tahun sebelumnya, pengunjung dibuat terpukau oleh penampilan para santri Pesantren KH. Abdullah Syafii ini. Sejumlah pejabat tinggi negara sejak 1990 berganti-ganti menjadi saksi sukses yang diraih pesantren di Pulo Air ini, mulai Habibie, Tarmidzi Taher, Hamzah Haz, hingga menteri zaman SBY, seperti MS.Kaban, Maftuh Basyuni dan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie. Ditemui di Pulo Air, Pimpinan Perguruan Assyafiiyah dan Pesantren KH. Abdullah Syafii, KH. Abdul Rasyid AS, berulang-ulang menyatakan rasa syukur tak terhingga dengan perjalanan pesantren yang diasuhnya ini lebih 16 tahun terakhir. Semua orang dahulu tatkala menerima wakaf dari Bapak Haji Soekarno, merasa ragu bisakah tanah 3,3 Ha wakaf ini bisa dikembangkan menjadi pesantren maju? Bisa dimaklumi saat itu kata Kyai Rasyid kondisinya sekadar tanah dan air melimpah belaka. Kini alhamdulillah puluhan bangunan sudah berdiri dan setiap tahun insya Allah akan terus dibangun. Bahkan Kyai Rasyid mengangan-angankan berdirinya sebuah Universitas Islam yang besar di lokasi pesantrennya ini. Untuk merealisasikan rencana itu telah disediakan tanah di pinggir jalan besar. Rencananya, juga akan dilengkapi sebuah masjid monumental. Bisakan rencana itu terwujud? Seperti pada 1989 lalu mula-mula rencana besar itu bagai fatamorgana layaknya, tapi insya Allah jika kita bekerja keras, itu semua akan terwujud. [] Selintas Macan Betawi KH Abdullah Syafi’ie, yang populer sebagai ”Macan Betawi”, lahir di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan pada 16 Sya’ban 1329 H./10 Agustus 1910 hari Sabtu. Nama ayahnya H. Syafi’ie Bin Sairan dan ibundanya Nona Binti Asy’ari. Mempunyai dua orang adik perempuan yang bernama H. Siti Rogayah dan H. Siti Aminah. Kedua orangtuanya cinta kepada orang-orang alim dan soleh sehingga dari sejak kecil sudah diarahkan untuk belajar ilmu agama. Sambil belajar, menuntut ilmu terus mengajar. Pada umur 17 tahun sudah memperoleh surat pemberian tahoe: boleh mengajar di langgar partikulir. Ketika berumur 23 tahun mulai membangun Masjid Al Barakah di Kampung Bali Matraman. Di situlah Almarhum lebih menekuni pembinaan masyarakat-ummat mengajak mereka ke jalan Allah. Sekitar tahun 30-an, da’wahnya lebih meluas lagi mencapai daerah sekitar Jakarta dan almarhum menuntut ilmu ke Bogor (Habib Alawy Bin Tohir Alhaddad). Sekitar tahun 40-an, membangun tempat pendidikan yaitu madrasah tingkat Ibtidaiyah, dan secara sederhana mulai menampung pelajar-pelajar yang mukim (tinggal) terutama dari keluarga. Pada tahun 1957 membangun AULA AS-SYAFI’IYAH yang diperuntukkan bagi madrasah tingkat Tsanawiyah Lilmuballighin wal Muallimin. Tahun 1965 mendirikan Akademi Pendidikan Islam As-Syafi’iyah (AKPI As-Syafi’iyah). Tahun 1967 mendirikan Stasiun Radio As-Syafi’iyah, tahun 1969 AKPI ditingkatkan menjadi UIA. Tahun 1968 merintis tempat pendidikan disuatu desa pinggiran Jakarta, yaitu Jatiwaringin Kecamatan Pondokgede Bekasi sebagai pengembangan dari pendidikan yang telah ada. Pada tahun 1974-1975 membangun pesantren putra dan pesantren putri di Jatiwaringin. Pada tahun 1978 membangun pesantren khusus untuk Yataama dan Masaakin. Pengembangan sarana untuk pendidikan dan pesantren terus dikembangkan ke sekitar Jakarta seperti Cilangkap-Pasar Rebo, di Payangan-Bekasi, Kp. Jakasampurna-Bekasi dll. Tahun 1980 mulai menyiapkan lokasi untuk kampus Universitas Islam As-Syafi’iyah di Jatiwaringin. Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua I Majlis Ulama Indonesia pada periode pertama dan juga sebagai Ketua Umum Majlis Ulama DKI periode pertama dan kedua. Almarhum banyak memikirkan tentang pendidikan untuk menghadirkan ulama untuk masa yang akan datang dengan mendirikan Pesantren Tinggi yaitu Ma’had Aly DAARUL ARQOM As-Syafi’iyah di Jatiwaringin. Almarhum berhati lembut : merasa pedih hatinya dengan penderitaan ummat terutama jika ummat mendapat musibah dalam urusan agama. Almarhum segera berusaha memberikan petunjuk dan pengarahan serta mencarikan jalan-jalan keluarnya. Selalu mengajak ummat kepada Tauhidullah dan AQIDAH ala thoriqoh Alissunnah wal jama’ah. Dimana-mana beliau berdakwah dan berceramah selalu mengajak jama’ah untuk beristighfar dan mengumandangkan kalimatuttauhid: La ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah. Jiwa dan semangatnya membangun ummat untuk menghidupkan syi’arnya agama Islam. Mendirikan masjid-masjid, musholla dan madrasah serta pesantren-pesantren. Menggalakkan ummat untuk berani dan suka beramal jariah, infak dan shodaqoh serta berwakaf. Mengajak Ulama dan Asatidzah untuk bersatu. Memberikan kesempatan kepada Asatidzah dan Ulama-ulama muda untuk tampil ditengah masyarakat. Menyelenggarakan Majlis Muzakarah Ulama dan Asatidzah. Menyantuni para dhu’afaa (kaum yang lemah) dengan bantuan berupa beras, pakaian, uang dll. Pada Selasa dinihari jam 00.30 KH Abdullah Syafi’ie berpulang ke rahmatullah saat menuju rumah sakit Islam. Dishalatkan di masjid Al Barkah Bali Matraman oleh puluhan ribu ummat Islam secara bergelombang dipimpin oleh para Alim Ulama. Turut serta tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah. Dimakamkan pada hari selasa tgl. 18 Dzulhijjah 1405 H./ 3 September 1985 di Komplek Pesantren Putra As-Syafi’iyah Jatiwaringin Pondokgede dengan dihantarkan oleh ratusan ribu ummat Islam.

Jumat, 31 Desember 2010

Pasca Musyawarah Besar (Mubes) II Forum Komunikasi Anak Betawi

Pasca Musyawarah Besar (Mubes) II Forum Komunikasi Anak Betawi, FORKABI, melahirkan berbagai macam dinamika, kalau tidak dapat dikatakan perpecahan. Kejadian pertama yang dapat dicatat adalah pernyataan sikap tentang panolakan terhadap susunan kepengurusan yang dibentuk oleh Ketua Umum dan Formatur yang ditengarai “mencomot” sembarang orang, asal tunjuk, dan tanpa melakukan konfirmasi terhadap orang yang ditunjuk menjadi pengurus.
Selajutnya seiring berjalanannya waktu, diakui atau tidak semakin lama FORKABI semakin vakum, miskin dari kegiatan, apalagi kegiatan yang bermanfaat bagi para anggota. Kemilau FORKABI kembali tampak pada saat Kaum Betawi bersepakat untuk mendudukkan Putera Daerah menjadi Kepala Daerah DKI Jakarta. Saat itu, FORKABI menjadi perekat bagi elemen-elemen lain untuk bersatu padu memperjuangkan cita-cita tersebut.
Pada setiap kampanye, FORKABI menurunkan kader dan anggotanya ke jalan, sehingga hamper setiap sudut DKI Jakarta berwarna putih hitam, seragam baru FORKABI yang memang didisain khusus untuk kegiatan Pilkada DKI Jakarta tahun 2007.
Memasuki Pemilihan Umum Anggota Legislatif tahun 2009, tidak tampak aktivitas yang berarti dari FORKABI, yang disebabkan oleh banyaknya kader FORKABI yang mencalonkan diri menjadi anggota DPR maupun DPRD DKI Jakarta yang berlatar belakang Partai Politik berbeda, sehingga pada saat itu FORKABI ada dimana-mana (tidak bersatu/pecah).
Berbeda dengan Pemilihan Umum Anggota Legislatif, pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, FORKABI mulai menggeliat dan bersatu padu mendukung salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, yakni SBY-Boediono. Untuk mengoptimalkan dukungan tersebut FORKABI membentuk sebuah Tim Sukses, Trisula.
Dari sekian rangkaian kegiatan yang terjadi pasca Mubes II FORKABI, jelas sekali terlihat bahwa FORKABI tidak bertitik tumpu pada keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan Ketua Umum, akan tetapi semuanya bermuara kepada keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan Ketua Dewan Penasehat FORKABI, sehingga menjadikan, sekali lagi diakui atau tidak, kedudukan dan fungsi Ketua Umum tidak lebih hanya sebagai “simbol organisasi”, padahal Ketua Umum dipilih oleh peserta Mubes secara langsung, sedangkan Ketua Dewan Penasehat tidak melalui pemilihan langsung peserta Mubes.
Kondisi dimana kedudukan dan fungsi Ketua Umum hanya sebagai simbol organisasi disebabkan oleh adanya sebuah pasal dalam Anggaran Rumah Tangga Forum Komunikasi Anak Betawi tentang Tugas dan Kewenangan Dewan Penasehat, yang berbunyi bahwa dapat menonaktifkan Ketua Umum.
Entah semangat apa yang terkandung dalam pasal tersebut di atas, akan tetapi fakta berbicara bahwa pada setiap event dan kegiatan yang dilakukan oleh FORKABI pasti merupakan keputusan, prakarsa, dan atau kebijakan Ketua Dewan Penasehat.
Menyambut Musyawarah Besar III Forum Komunikasi Anak Betawi, Mubes III FORKABI, diharapkan para calon peserta Mubes untuk dapat berfikir dengan jernih sebelum memutuskan memilih calon Ketua Umum. Calon Ketua Umum yang akan datang harus dapat menggerakkan seluruh rangkaian organisasi demi terwujudnya cita-cita perjuangan FORKABI adalah merupakan sebuah keniscayaan.
Hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, oleh karenanya harus disiapkan dan dilihat secara teliti dan seksama, sehingga calon peserta Mubes tidak menjatuhkan pilihan berdasarkan kemilau pangkat dan jabatan dari sang Calon Ketua Umum, akan tetapi juga kepedulian sang Calon Ketua Umum kepada tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang akan diembannya kelak.
Hendaknya dinamika Forum Komunikasi Anak Betawi pasca Mubes II harus pula dijadikan cermin dan pengalaman yang berharga sebelum memutuskan siapa yang berhak dan pantas untuk dipilih menjadi Ketua Umum DPP FORKABI periode 2010 – 2015.

DUIT BETAWI

DUIT BETAWI
Oleh Chairil Gibran Ramadhan
WAJAH BETAWI
TAHUN 2009 ini pemerintah kita mengeluarkan uang kertas baru dalam pecahan nominal Rp. 2000. Bagus warnanya, bagus kertasnya, bagus tampilannya. Ada wajah Pangeran Antasari di bagian muka dan tarian adat Dayak di bagian belakang. Kita pun akhirnya menyadari bahwa nominal yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di negeri ini semakin tinggi saja standarnya.
Hingga awal dekade 1990-an, kita masih mengenal uang logam Rp. 50 sebagai nominal terkecil (oleh orang Cina, Betawi dan Jakarta disebut “gocap”). Waktu itu, dengan uang sejumlah itu kita masih bisa membayar untuk satu gorengan: Singkong goreng, ubi goreng, atau bakwan. Adapun uang logam Rp. 25 sudah tidak terlihat namun masih memiliki nilai bayar—minimal seharga satu buah permen dan biasanya orang membeli 2 atau 4 permen sekaligus. Sebelumnya pada awal dekade 1980-an, nominal terkecil adalah Rp. 5 dan Rp. 10 (oleh orang Cina, Betawi dan Jakarta disebut “gotun” dan “captun”), yang cukup untuk membayar selembar kerupuk dan es lilin. Bahkan pada pertengahan dekade 1970-an uang sejumlah tadi cukup untuk satu mangkuk bakso atau sepiring siomay. Pada dekade-dekade sebelumnya di negeri ini dikenal “goweng” (0,25 sen), “peser” (0,50 sen), “duwit” (0,85 sen), “sen” (1 sen), “benggol” (2,5 sen), “seteng” (3,5 sen), “kelip” (5 sen), “ketip” (10 sen), “talen” (25 sen), “suku” (50 sen), “perak” (100 sen), “ringgit” (250 sen), serta “ukon” (1000 sen) yang sama dengan 10 gulden dan terbuat dari emas.
Kini nominal-nominal itu telah menjadi bagian dari masa lalu kita.
Pada akhir dekade 2000-an ini, nominal terkecil yang kita kenal dan masih memiliki nilai bayar adalah logam Rp. 100. Paling tidak dengan uang sejumlah itu kita masih bisa menelepon satu kali di telepon umum atau membayar selembar kertas yang kita fotokopi. Nominal Rp. 50 “masih digunakan” di hypermarket, semata sebagai alat pengembalian—karena nyatanya pihak hypermarket tidak mau menerima ketika kita gunakan sebagai alat pembayaran—yang oleh kita akhirnya seringkali dibuang ke selokan, dikumpulkan di stoples kaca (mungkin untuk hiasan), atau ditaruh di kotak amal kaca dekat pintu masuk masjid.
Tentu tak lama lagi uang logam Rp. 100 pun akan tak digunakan, karena standarnya sudah beralih ke uang logam Rp. 200. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Terlepas dari masalah-masalah ekonomi, terbitnya uang kertas Rp. 2000 tadi kembali menggugah kesadaran saya yang sudah ada sejak saya mengenal uang sebagai benda yang dibawa tiap pergi ke SDN 02 Petang tempat saya sekolah di Pondok Pinang dahulu, dan utamanya saat Hari Lebaran ketika anak-anak kecil menerima uang dari para orang dewasa (waktu itu yang saya ingat uang kertas Rp. 100 bergambar badak): “Kapan uang di negeri ini menampilkan wajah Muhammad Husni Thamrin yang kadung diangkat sebagai Pahlawan Nasional, Rumah Joglo Betawi, Tari Topeng, atau hal-lain yang bernuansa Betawi? Minimal satu kali!”
CERPEN BETAWI
SAYA menaruh harapan besar pada Bang Fauzi Bowo sejak ia diangkat sebagai Gubernur DKI Jakarta, untuk bisa memperjuangkan Betawi supaya “lebih ianggep” dengan hadir di dalam uang bernuansa Betawi. Betawi saya yakin pasti bisa tampil di “media serius” semacam uang republik kita, setelah sekian lama hanya tampil sebagai bahan lelucon di layar televisi dan panggung-panggung hiburan. Muhammad Husni Thamrin jangan lagi sebatas ada di jalan raya dan jalan-jalan kampung; Rumah Joglo Betawi jangan lagi sebatas ada replikanya di plaza dan mall saat bulan Juni; Tari Topeng jangan lagi hanya ada di pertunjukan Topeng Betawi atau peringatan HUT Jakarta; dan hal-hal lain yang bernuansa Betawi jangan lagi berserakan entah di mana.
Saya pernah ditanya wartawan, apa yang mendorong saya menulis cerpen bernuansa Betawi. Jawaban saya waktu itu begini (dan jawaban itu tak akan berubah): “Awalnya lantaran setiap membuka suratkabar nasional edisi ahad yang memuat cerpen sastra, maka yang saya lihat adalah adalah cerpen-cerpen bernuansa Minang, Melayu, Jawa, Bali, atau Sunda. Lantas mana cerpen yang bernuansa Betawi?”
Terus-terang saya merasa miris dengan kenyataan tersebut. Bayangkan, betapa ironis bila suratkabar-suratkabar nasional yag terbit di Jakarta itu, berkantor di Jakarta itu, pegawai-pegawainya hidup di Jakarta itu, dan Jakarta nota-bene adalah kampungnya orang Betawi, tapi tidak pernah menampilkan cerpen bernuansa Betawi. Boro-boro ada media cetak yang berbahasa Betawi.
Saya pun sesungguhnya terlambat menyadari hal ini. Sebab pada awal karir sebagai penulis sastra, saya masih menulis cerpen-cerpen bernuansa umum—bergaya realis ataupun surealis—tanpa kekhasan nuansa daerah. Akhirnya sejak 2003 jerih-payah saya membela Betawi lewat sastra mendapat pengakuan pertama kali dari Harian Republika dan Dewan Kesenian Jakarta. Saya pun disebut sebagai “sastrawan Betawi” lewat surat kabar dan buku mereka (kiranya untuk hal ini saya menyatakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ahmadun Y. Herfanda dari Harian Republika dan Bapak Henry Ismono dari Tabloid Nova—keduanya berdarah Jawa).
MIMPI BETAWI
PERKARA tampilnya uang kita yang tak pernah bernuansa Betawi, juga membuat saya miris. Bukan kepada “apa dan siapa” yang ditampilkan, tapi kepada pihak penyelenggara negara ini.
Bayangkan, betapa ironis bila sejak republik ini berdiri dan kemudian menjadikan Jakarta sebagai ibukotanya (yang artinya juga menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi), lalu Bank Indonesia ada di Jakarta, berkantor di Jakarta, pegawai-pegawainya hidup di Jakarta, yang nota-bene adalah kampungnya orang Betawi, namun tidak pernah satu kali pun menampilkan wajah pahlawan berdarah Betawi semacam Bang Muhammad Husni Thamrin, atau Rumah Joglo Betawi, atau Tari Topeng, atau hal-hal lain yang bernuansa Betawi. Apa badak dan orang utan lebih patut diabadikan dalam uang kita daripada Muhammad Husni Thamrin atau seni-budaya Betawi sang tuan rumah?
Tulisan ini memang erat kaitannya dengan minat kedaerahan saya—yang celakanya selalu disematkan hanya kepada orang Betawi dengan alasan bahwa Jakarta adalah tempat berkumpulnya beragam etnis, tapi tidak kepada suku-suku lain ketika mereka memperjuangkan keinginannya yang berbau kedaerahan. Namun sesungguhnya tulisan ini lebih merupakan cermin untuk para penyelenggara negara supaya lebih menghargai keberadaan Betawi dan orang Betawi itu sendiri sebagai suku yang memiliki Jakarta—seperti suku Minang yang memiliki Padang dan Sumatra Barat, suku Jawa yang memiliki Yogya dan Jawa Tengah, suku Batak yang memiliki Medan dan Sumatra Utara, suku Sunda yang memiliki Bandung dan Jawa Barat, dan lain-lain, dan lain lain.
Bukankah Betawi juga memiliki Pahlawan Nasional dan seni-budaya?
Kita kadung kecewa bahwa sejak jaman Soekarno di Orde Lama dan Soeharto di Orde Baru, orang Betawi sangat “digencet” ruang geraknya di bidang politik. Posisi-posisi mereka di pemerintahan sangat minim. Untuk di kampungnya sendiri, mereka terkadang hanya sebatas menjadi Ketua RT atau Ketua RW. Padahal banyak orang Betawi yang berpendidikan tinggi. Untuk kelas provinsi, paling banter menjadi wakil gubernur. Maka kita patut bersyukur karena dengan berubahnya angin politik maka Bang Fauzi Bowo punya kesempatan sehingga bisa menjadi Gubernur di DKI Jakarta.
Saya (dan mungkin banyak orang Betawi lain) sangat berharap tak lagi hanya bermimpi melihat uang kertas republik ini menampilkan nuansa Betawi.
Catatan:
1.Tulisan ini saya khususkan untuk (abjad) Bang Fauzi Bowo, Babe Husain Sain, Babe Nachrawi Ramli, Babe Ridwan Saidi, Bang Yahya Andi Saputra, dan Bang Yoyo Muchtar.
2. Wacana “uang Betawi” pernah saya utarakan pada Babe Edy Ruslan Tabrani pada siarannya di Bens Radio (Desember 2000), serta Bang Heru Haerudin, anggota Forkabi, Cipete, Jakarta Selatan (2009).
Jemblongan, Depok
090909
Chairil Gibran Ramadhan, lahir dan besar di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Pernah menjadi wartawan dan redaktur majalah di Jakarta. Cerpennya tampil di berbagai media nasional dan antologi bersama berbahasa Inggris untuk pasar internasional “Menagerie 5” (ed. Laora Arkeman, Yayasan Lontar, 2003). Antologi tunggal pertamanya berisi 17 cerpen bernuansa Betawi, “Sebelas Colen di Malam Lebaran” (Masup Jakarta, Oktober 2008).

Minggu, 19 Desember 2010

TV BETAWI ONLINE


silat golok siliwa betawidari kampung candran/blok s

ANAKBETAWIPERGINGAJI

Anak Betawi Pergi Ngaji “Sambil” HAJI
Dulu, bagi orang Betawi yang memiliki keinginan agar anaknya menjadi ulama besar, Makkah adalah tujuannya. Selain bisa ngaji kepada ulama yang terkemuka di sana, si anak juga dapat melaksanakan haji saban tahun karena Ka`bah di depan mata.
Sepulangnya ke tanah air, si anak selain berilmu juga sudah bergelar haji, suatu gelar terhormat di masyarakat Betawi, dan melengkapi pengakuan atas status sosialnya sebagai ulama dengan gelar Kyai Haji.
Untuk mewujudkan keinginan ini, apapun dikorbankan dan dilakoni orang tua, semisal menjual tanah, harta benda lainnya atau meminjam uang kepada tetangga.
Karena orang Betawi berpaham Ahlussunnah Wal Jama`ah dan setelah paham Wahabisme menghegemoni ke seluruh institusi pendidikan Islam di Saudi Arabia, bisa dikatakan sekarang ini sangat sedikit orang Betawi yang mengirim anaknya untuk ngaji ke sana, khususnya di Makkah. Terlebih setelah ulama Ahlussunnah wal Jama`ah terkemuka di Saudi Arabia, Sayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki wafat pada tahun 1995 lalu. Orang Betawi lebih memilih Mesir, Yaman atau Suriah sebagai tempat ngaji anak-anaknya untuk menjadi ulama besar, baik di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non-formalnya. Salah satu alasanya, karena kedekatannya dengan kota Makkah sehingga mudah untuk beribadah haji. Pengalaman anak Betawi yang pergi ngaji “sambil” haji ini direkam dengan baik oleh ulama Betawi dari pengalaman pribadi mereka. Salah satunya adalah KH. Noer Alie, sosok ulama-pejuang dan pahlawan nasional kita.
Waktu itu, tahun 1930-an, anak Betawi yang pergi ke kota Makkah untuk ngaji umumnya disesuaikan dengan musim haji karena kapal laut yang berangkat ke Jeddah, yaitu salah satunya kapal laut Telisce, memang diutamakan mengangkut jamaah haji, selain para pelajar dan barang-barang. Selain itu, mereka yang ke Makkah untuk ngaji atau belajar bisa mendapatkan potongan harga tiket sampai separuhnya. Dengan membayar f 92,5 (harga untuk pelajar yang sudah dipotong lima puluh persen, sedangkan jama`ah haji harus bayar seratus persen atau f 185), anak Betawi dapat berangkat ke tanah suci dengan dilepas sanak keluarga di Pelabuhan Tanjung Priok. Perjalanan laut ke Jeddah membutuhkan waktu selama dua minggu lebih, menyinggahi beberapa pelabuhan di beberapa negara, seperti Singapura, Kalkuta (India) , sampai Djibouti di Afrika Timur untuk mengisi bahan bakar. Di kapal laut ini jangan berharap mendapatkan kenyamanan seperti naik pesawat terbang karena ukuran kapasitas muatan kapal ditentukan atas timbangan berat, bukan jumlah penumpang. Jadi bisa dibayangkan kesumpekan yang dialami para penumpang, terlebih tidak ada kamar-kamar khusus yang disediakan untuk penumpang dan ventilasi serta sanitasi yang tidak nyaman.
Sering terjadi saat memasuki laut merah dan sudah dekat dengan pelabuhan Jeddah Telisce berhenti di tengah laut dan tidak dapat merapat karena perairan pelabuhan masih sangat dangkal. Untuk sampai ke pantai, para penumpang dijemput perahu-perahu tongkang yang masing-masing memuat sekitar 10 orang ditambah barang-barang penting seperlunya. Sedangkan barang-barang yang berat diangkut dengan tongkang lain. Di pelabuhan Jeddah, jamaah yang berasal dari Batavia disambut oleh Syeikh Al Betawi, yang mengurus jamaah haji atau pelajar Betawi yang akan bermukim di Makkah. Setelah diterima syeikh, semalaman jemaah diasramakan di tempat yang telah disediakan. Keesokan harinya, jemaah bertolak dari Jeddah ke Makkah dengan menggunakan Onta yang membutuhkan waktu dua hari satu malam melintasi wilayah gersang berpasir dengan suhu yang begitu panas dan sampai di Makkah setelah Maghrib. Bandingkan dengan sekarang yang hanya beberapa jam saja. Di Makkah, jamaah tinggal di penampungan Syaikh Al Betawi yang dipisahkan tempat tinggalnya antara jamaah haji dan pelajar. Pada hari pertama di Makkah, jamaah pada umumnya melakukan thawaf di Baitullah. Walaupun mereka sudah berada di Makkah, mereka belum bisa melakukan ibadah haji karena keberangkatan mereka dari Indonesia pada bulan Rajab sehingga masih beberapa bulan lagi untuk masuk bulan haji (Dzulhijjah). Untuk mengisi waktu, jama`ah haji memperbanyak ibadah sunnah, selain ibadah wajib, terutama di bulan Ramadhan dan juga umroh berkali-kali. Sedangkan yang berstatus sebagai pelajar, mereka mulai belajar atau mengaji.
Di Makkah pada waktu itu, terdapat dua model pendidikan yang dibedakan berdasarkan jenjang dan tempat belajar mengajar, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Umumnya, anak Betawi menempuh pendidikan non-formal yang tempat belajarnya tidak di ruang kelas tetapi di Masjidil Haram atau di rumah salah seorang guru mereka yang dipanggil syeikh. Di Masjidil Haram, terdapat sejumlah tempat khusus mengaji yang dipimpin oleh seorang syeikh dengan kepakarannya masing-masing dalam bidang ilmu ke-Islaman. Tempat khusus tersebut di kavling-kavling yang merupakan kesapakatan antara syeikh. Kavling tersebut tidak dibatasi oleh tembok atau pembatas lainnya, hanya diperkirakan saja. Bagi orang yang pertama kali datang, tentu terasa sulit untuk menentukan batas kavling. Syeikh-syeikh yang terkemuka pada waktu itu antara lain Syeikh Ali Al-Maliki (pengarang kitab Qurratul 'Ain yang masih dijadikan rujukan bagi kalangan nahdiyin sampai sekarang), Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Ahmad Fatoni, Syeikh Ibnul Arabi, Syeikh Muhammad Amin Al-Quthbi, Syeikh Achyadi, Syeikh Abdul Zalil dan Syeikh Umar at-Turki. Saat waktu haji, para pelajar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk melakukan ibadah haji dan kembali lagi mengaji setelah ibadah haji selesai dilaksanakan.
Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun sampai dipandang cukup untuk kembali ke tanah air untuk mengabdi di tengah-tengah umat sebagai kyai haji. Sekarang, tempat-tempat ngaji tersebut tidak ada lagi di Masjidil Haram karena terbentur larangan dari pemerintah. Para syeikh Ahlussunnah Wal Jama`ah yang tersisa dan masih meneruskan tradisi mengajar tersebut di Makkah, mengalihkan tempat pengajiannya di rumah masing-masing. Biasanya setiap musim haji, mereka masih didatangi oleh para pelajar dari Indonesia untuk mengaji walau hanya beberapa hari atau minggu saja, khususnya dari Betawi, yang umumnya tidak lagi berusia muda dan di tanah air sebagian bahkan berstatus sebagai ustadz atau ulama.