Rabu, 15 Desember 2010

BETAWI TIONGHOA

Orang Tionghoa sudah lama sekali berada di Jakarta. Pada waktu
Belanda pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jayakarta di sana
sudah ada pemukiman Tionghoa di muara sungai Ciliwung. Ini
menunjukkan bahwa hubungan yang sangat baik antara etnik yang di
kemudian hari dikenal sebagai etnik Betawi dengan etnik Tionghoa
sudah berlangsung sangat lama, jauh sebelum datangnya bangsa-bangsa
Barat ke Nusantara.

Orang-orang Tionghoa yang datang ke Jawa umumnya berasal dari
propinsi Hokkian bagian selatan (Ban-lam). Yang dimaksud dengan
Hokkian selatan ialah wilayah sekitar Ciangciu (Zhangzhou), Emui
(Xiamen) dan Coanciu (Quanzhou)

Maka dari itu secara umum pengaruh Tionghoa yang masuk ke dalam
budaya Betawi adalah budaya Hokkian selatan, bukan dari bagian lain
negeri Cina. Bahwasanya budaya Hokkian selatanlah yang sangat besar
pengaruhnya tampak dari istilah-istilah Hokkian selatan yang sampai
sekarang masih dikenal di kalangan Tionghoa peranakan dan sebagian
telah masuk ke dalam kosa kata bahasa Betawi.

Menurut Raden Aryo Sastrodarmo, seorang pelancong Surakarta di
Batavia pada tahun 1865, dalam Kawontenan ing Nagari Betawi, seperti
dikutib Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi: Asal Muasal,
Kebudayaan dan Adat Istiadatnya, adat-istiadat Betawi mirip adat-
istiadat Tionghoa. Cara orang Betawi memperkenalkan diri juga seperti
orang Tionghoa. Cara mereka duduk dan bercakap-cakap juga sama dengan
Tionghoa yaitu duduk di kursi, dan jika makan memakai meja, tida
bersila di atas tikar yang terhampar di tanah. Orang Betawi juga
belajar silat dari orang Tionghoa. Orang Betawi tida punya rasa takut
(alias pede?) disebabkan pengaruh orang Tionghoa.

Kalau di wilayah budaya Jawa, misalnya, etnik Tionghoa peranakan
sangat dipengaruhi budaya Jawa sehingga sejak dahulu tida sedikit di
antara mereka yang boleh dibilang pakar dalam kebudayaan Jawa:
gamelan Jawa, tari Jawa, wayang wong, dan lain-lain, maka menurut
pengamatan saya di Jakarta ini interaksi budayadalam arti saling
mempengaruhiantara kedua belah pihak sangat kuat. Di satu pihak
etnik Tionghoa, khususnya peranakan, sangat dipengaruhi budaya
Betawi, di lain pihak etnik Betawi juga sangat dipengaruhi budaya
Tionghoa. Begitu dekatnya hubungan budaya antara kedua etnik ini,
sehingga seorang sobat saya dari etnik Betawi berseloroh, "Betawi ame
Cine ubungannye kaye gigi ame bibir aje."

Di bawah ini ada banyak istilah yang berasal dari bahasa Tionghoa.
Istilah-istilah dalam dialek Hokkian selatan itu saya letakkan di
dalam kurung dan ditulis sesuai lafal aslinya menurut kamus.

Bahasa Betawi adalah bahasa yang sangat terbuka. Dalam bahasa Betawi
sangat banyak kita temukan kata-kata pinjaman (loanwords) dari bahasa
Tionghoa, utamanya dialek Hokkian selatan (Ban-lam gi). Kata-kata
dalam bahasa Betawi yang berasal dari dialek Hokkian selatan antara
lain adalah: kata ganti diri gua (goa) 'saya', dan lu (lu) 'kamu',
kata bilangan sederhana: gotun (gou-tun), ' lima perak (rupiah)',
captun (cap-tun) 'sepuluh rupiah', cepeh (cit-peh), 'seratus', gopeh
(gou-peh) 'lima ratus', ceceng (cit-cheng), 'seribu (rupiah),' goceng
(gou-cheng), lima ribu', ceban (cit-ban) 'sepuluh ribu', cetiau (cit-
tiau) 'sejuta', liangsim (liang-sim), 'hati nurani' atau 'isi perut',
cabo (ca-bou) 'wanita pekerja seks', sue (soe), 'sial atau naas',
sue'an 'sialan', dan masih banyak lagi.

Bagian depan rumah Betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan (lan-
kan) 'balustrade'. Agar tampak indah dan tida kusam, pintu dan
jendela harus dicat (chat) ulang setiap tahun. Di dinding tergantung
loceng atau lonceng (lo-ceng). Penghuni rumah tidur di pangkeng (pang-
keng) 'kamar tidur'. Sebelum tidur orang tentunya ingin kongko (kong-
kou) 'mengobrol' terlebih dahulu sambil minum teh (te) dan makan
kuaci (koa-ci). Ta'pang (tah-pang) 'balai-balai' atau 'dipan' dipakai
untuk rebah-rebahan sambil bersantai.

Untuk memasak di dapur ada langseng (lang-sng) 'dandang', anglo (hang-
lou) 'perapian dengan arang'. Meja bisa dibersihkan dengan topo' (toh-
pou) 'lap meja', bisa juga pakai kemoceng (ke-mo-cheng) 'bulu ayam'
untuk menghilangkan debunya. Lantas tesi (te-si) 'sendok teh'
tentunya untuk menyendok. Untuk mengumpulkan sampah yang sudah disapu
ada pengki (pun-ki). Di tempat-tempat becek doeloe orang suka memakai
bakiak (bak-kiah) yang tahan air.

Di bidang makanan kecap (ke-ciap) Benteng (Tangerang) memang sudah
bekend en tersohor sejak jeman doeloe. Manisan tangkue (tang-koa atau
tang-koe) 'beligo' atau 'kundur' memang enak buat dinikmati sembari
minum teh. Mi (mi), bihun (bi-hun), tahu (tau-hu), toge (tau-ge),
tauco (tau-cioun), kucai (ku-chai), lokio (lou-kio), juhi (jiu-hi),
ebi (he-bi), dan tepung hunkwee (hun-koe) tak terpisahkan lagi dengan
culinary Betawi. Selain itu kue mangkok (hoat-koe), kue ku (ang-ku-
koe), kue sengkulun (sang-ko-lun) telah menjadi kue-kue khas Betawi.
Selain Semarang, ternyata Jakarta juga punya penganan yang namanya
lumpia (lun-pian) yang tak kalah sedapnya. Sudah pernah mencoba makan
ngohiang (ngou-hiang) alias gohiong? Lantas siapa yang tida kenal
ikan cuwe (choe) dan nasi tim (tim)?

Pengaruh budaya Tionghoa terasa pula dalam pernikahan tradisi Betawi.
Petasan (mercon, kata orang Jawa) salah satu contohnya. Di beberapa
daerah, suatu pernikahan gaya Betawi takkan lengkap kiranya tanpa
bunyi petasan renceng yang memekakkan telinga saat menyambut
penganten laki-laki.

Dalam rombongan ngarak penganten di unit kedua ada barisan remaja
pesilat berseragam membawa senjata khas Tionghoa berupa tongkat
panjang yang disebut toya.

Pengaruh lain ialah dalam pakaian penganten perempuan Betawi yang
disebut putri Cina. Pada Festival Pecinan I di tahun lalu telah kita
lihat peragaan upacara perkawinan tradisi Tionghoa peranakan di
Tangerang. Bisa kita amati persamaan dan perbedaan antara pakaian
penganten perempuan Tionghoa dengan pakaian penganten Betawi yang
tentu sudah sering diperagakan. Pakaian penganten perempuan Betawi
yang disebut Putri Cina pada dasarnya sama saja dengan pakaian
penganten perempuan tradisi Tionghoa peranakan. Baju penganten Putri
Cina itu terdiri dari: serangkaian Kembang Goyang dengan Burung Hong
serta penutup wajah penganten perempuan yang disebut Siangko (pat-
sian khou), baju penganten berpotongan Mancu yang mempunyai bukaan di
kanan, yang disebut baju Toaki (toa-ki), dan bawahan berupa rok lipit
yang disebut Kun (kun). Di bagian bahu dan dadanya penganten
perempuan memakai aksesori yang disebut Terate (in-kian). Seperti apa
pakaian penganten perempuan Tionghoa peranakan ini dapat dilihat
melalui foto sampul KSK edisi perdana Juni 2002 lalu.

Sama seperti orang Tionghoa, orang Betawi pun kalau kondangan lazim
memberikan angpau atau ampau, selain barang-barang lain, kepada tuan
atau nyonya rumah. Ampau (ang-pau) ialah bingkisan uang yang
dimasukkan ke dalam amplop khusus bergaris merah.

Dalam pertemuan-pertemuan kaum Betawi, para lelaki biasanya
mengenakan baju tikim (tui-khim)ada yang menyebutnya baju koko dan
sadariahdengan padanan celana batik dan selendang yang dikalungkan
di dada. Celana pangsi (phang-si) berwarna hitam kebanyakan dipakai
oleh jago-jago/jawara-jawara. Ibu-ibu sering menggendong anak yang
masih kecil dengan cukin (chiu-kin). Untuk ikat pinggang dipakai
angkin (ang-kin). Anak-anak kecil doeloe suka mengenakan oto (io-tou)
supaya tida mudah masuk angin.

Kalau kondangan banyak kaum perempuan yang memakai Kebaya Encim.
Kebaya ini merupakan pengaruh tida langsung orang Tionghoa peranakan
terhadap orang Betawi. Walau kebaya ini asalnya dari orang Indo, tapi
kemudian dimodifikasi dan diadaptasi oleh kaum perempuan Tionghoa
peranakan. Jika kebaya Indo hanya berwarna putih, maka kebaya
perempuan Tionghoa peranakan kemudian tida lagi berwarna putih, dan
lalu diberi sulaman (bordir) benang berwarna-warni. Bermacam motif
dekoratif disulamkan di sini. Mulai dari aneka flora, kupu-kupu, dan
burung bahkan sampai ke . . . raket tenis! Ujung kebaya yang pada
kebaya Indo rata dibuat menjadi sonday (meruncing). Ujung sonday
inilah yang lantas menjadi ciri khas Kebaya Nyonya peranakan. Kebaya
yang kini disebut Kebaya Encim ini selanjutnya diadaptasi oleh kaum
perempuan Betawi.

Dalam bidang seni musik kontribusi orang Tionghoa, dalam hal ini
orang Tionghoa peranakan, yang tida kalah penting adalah musik khas
Jakarta yang disebut gambang kromong. Jenis musik ini memang musik
pembauran alias campuran, seperti dikatakan sendiri oleh Kwee Kek
Beng, seorang wartawan senior, ''Maoe dikata Tionghoa terlaloe
Indonesia, maoe dikata Indonesia terlaloe Tionghoa."

Gambang kromong pada mulanya membawakan lagu-lagu instrumentalia dari
daerah Hokkian selatan (lagu pobin) dengan iringan gambang, kromong,
ningning, kecrek, kendang, goong, suling, dan beberapa instrumen
gesek Tionghoa. Instrumen gesek itu terdiri dari: sukong (su-kong)
yang besar dan bernada rendah, tehyan (the-hian) yang sedang, dan
kongahyan (kong-a-hian) yang paling kecil dan bernada tinggi.

Lagu pobin merupakan lagu terawal gambang kromong, biasanya dimainkan
sebagai pembukaan suatu pertunjukan musik gambang kromong. Judulnya
masih dalam dialek Hokkian selatan. Judul lagu pobin yang masih dapat
sering diperdengarkan antara lain: Khong Ji Liok ('Kosong Dua Enam')
dan Peh Pan Thau ('Delapan Ketukan'). Laras (surupan) gambang kromong
adalah laras salendro yang juga khas Tionghoa, disebut Salendro Cina.
Para pemain (panjak) gambang kromong bisa dari etnik Tionghoa
peranakan, bisa dari etnik Betawi, atau campuran antara keduanya.

Selain memainkan lagu-lagu pobin, gambang kromong juga mengiringi
lagu-lagu yang dinyanyikan wayang cokek. Wayang adalah 'anak wayang'
(aktor atau aktris), sedangkan cokek dari kata chioun-khek yang
artinya 'menyanyi' (to sing a song). Wayang cokek menyanyi sambil
menari (ngibing) bersama pasangan laki-laki. Selendang untuk menari
bersama wayang cokek disebut cukin (chiu-kin) atau soder.

Mengenai istilah kekerabatan orang Betawi menyebut kakenya ngkong (ng-
kong), ibunya enya' (ng-nia), paman dan bibinya encing (ng-cim). Dari
ketiga istilah kekerabatan ini ngkong-lah yang paling jelas dipinjam
dari istilah kekerabatan Hokkian selatan.

Demikianlah bahasan singkat saya tentang berbagai pengaruh budaya
Tionghoa dalam budaya Betawi yang berhasil saya telusuri. Pengaruh
yang sebenarnya juga berlaku timbal balik antara kedua etnik
tersebut. Pengaruh yang mencerminkan kebhinnekaan yang sesungguhnya
dalam budaya bangsa kita ini.

Tidak ada komentar: