Rabu, 15 Desember 2010

Si Pitung Perampok atau Pemberontak?

Si Pitung Perampok atau Pemberontak?
Oleh Ridwan Saidi

Si Pitung selama delapan tahun (1886 – 1894) telah meresahkan Batavia. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera Snouck Hurgronje mengecam habis-habisan kepala polisi Batavia Schout Hijne yang tak mampu menangkap Pitung. Hurgronje menganggap amat keterlaluan kalau seorang Eropa seperti Hijne sampai harus berdukun untuk dapat menangkap Pitung. Hurgronje menganggap kepala polisi ini sangat tidak terpelajar yang tak mampu memperhitungkan kehadiran alat transportasi baru, kereta api, yang dengannya Pitung dapat hilir mudik. Lebih menggusarkan lagi Pitung dapat meloloskan diri dari penjara Meester Cornelis ketika tertangkap pada tahun 1891. Tidak hanya itu, di luar penjara Pitung masih sempat membunuh Demang Kebayoran, yang menjadi musuh petani-petani Kebayoran dan telah pula menjebloskan saudara misan Pitung, Ji’ih, ke penjara dan kemudian dihukum mati.

Margriet van Teel dalam laporan penelitiannya tahun 1984 sebagaimana disiarkan Bijdragen tahun penerbitan semasa mengungkapkan bahwa polisi Belanda pernah menggerebek rumah si Pitung di Rawa Belong, Jakarta Barat, dan ternyata di rumah itu yang ditemukan hanyalah beberapa keping uang benggolan senilai 2,5 sen yang tersimpan di bambu. Padahal selama delapan tahun Pitung melakukan aksi perampokan dengan sasaran saudagar yang dinilainya bersekutu dengan Belanda telah mengeruk uang dan emas permata yang tidak sedikit nilai dan jumlahnya.

Dalam menjalankan aksi perampokannya, Pitung tidak membangun komplotan melainkan berdua denga sepupunya Ji’ih yang kemudian dihukum mati. Setelah itu Pitung bekerja sendiri. Karena itulah sulit polisi mendapatkan informasi tentang Pitung.

Apa yang dikenal sebagai rumah si Pitung yang berlokasi di Marunda, Jakarta Utara, sesungguhnya rumah Haji Safiudin seorang bandar perdagangan ikan. Ada dua versi tentang perampokan di rumah Haji Safiudin. Versi pertama mengatakan Pitung benar-benar telah merampok Haji Safiudin. Versi kedua meragukan kalau Haji Safiudin sempat dirampok. Diperkirakan terjadi kesepakatan antara Safiudin dengan Pitung. Safiudin menyerahkan sejumlah uang. Penulis meyakini versi kedua dengan penjelasan di bawah nanti.

Mengangon kambing

Ibu kandung Pitung berasal dari Rawa Belong, Jakarta Barat, ayahnya berasal dari kampung Cikoneng, Tangerang. Diperkirakan Pitung lahir pada tahun 1866 di Tangerang. Sekitar usia delapan tahun Pitung merasakan kehidupan yang pahit. Kedua orang tuanya bercerai. Ibunya menolak dijadikan isteri tua. Pitung bersama ibunya kembali ke kampung Rawa Belong, sedangkan ayahnya menetap di Cikoneng, Tangerang, bersama istri mudanya dan tetap bekerja pada tuan Tanah Cikoneng. Kemudian hari ketika Pitung sudah menjadi buronan ia kerap berkunjung ke rumah Tuan Tanah Cikoneng.

Di Rawa Belong Pitung mengangon kambing milik kakeknya. Setelah berusia 14 tahun, Pitung dipercaya menjual kambing di pasar Kebayoran. Pada suatu hari saat kembali dari pasar menjual kambing, Pitung dirampok. Ia tak berani pulang takut dimarahi kakek dan ibunya. Pitung mengembara dengan dendam yang amat sangat terhadap kekerasan.

Dalam pengembaraannya itu sampailah ia di kampung Kemayoran, dan berkenalan dengan Guru Na’ipin. Seorang ahli tarekat yang pandai bermain silat. Guru Na’ipin adalah murid Guru Cit seorang mursyid, guru tarekat, dari kampung Pecenongan, Jakarta Pusat. Sekitar enam tahun Pitung berguru pada Na’ipin.

Na’ipin bersahabat dengan Mohammad Bakir, pengarang Betawi akhir abad XIX. Karya Mohammad Bakir tersimpan di sejumlah meseum terkemuka di dunia antara lain Petersburg, Rusia, London, dan negeri Belanda. Dari titik inilah Na’ipin membangun hubungan dengan jaringan Jembatan Lima, Jakarta Barat, yang ketika itu sudah dipimpin Bang Sa’irin. Di kampung inilah segala gagasan pemberontakan dan perlawanan terhadap Belanda di sepanjang abad XIX dan permulaan abad XX dirancang. Jaringan Jembatan Lima sebelumnya dipimpin Cing Sa’dullah, juga seorang pengarang Betawi.

Pitung tidak pernah menikmati hasil rampokannya. Ia tak pernah beristeri, karena buronan yang tidak menetap di suatu tempat. Ia juga bukan penjudi, atau pun pemabuk. Ia seorang penganut tarekat. Menurut Margriet van Teel, Pitung dapat menulis dalam aksara Melayu Arab. Margriet van Teel melaporkan bahwa tatkala di penjara Meester Cornelis, Jatinegara, Pitung sempat beberapa kali menyelundupkan surat yanag ditujukan pada pengurus mesjid Al Atiq kampung Melayu. Dalam surat itu Pitung menggunakan nama samaran Solihun, orang yang saleh.

Di kalangan tarekat tatkala itu berkembang keyakinan bahwa merampas harta musuh untuk kepentingan perjuangan adalah halal belaka. Ini disebut fa’ie. Pitung menjalankan tugas ini setelah tokoh-tokoh pemberontakan petani di Jakatrta dan sekitarnya kesulitan dana karena penyandang dana selama itu, pelukis Raden Saleh, telah disita kekayaannya pada tahun 1870 karena terlibat pemberontakan petani. Dan pada tahun 1880 Raden Saleh meninggal dunia di Bogor dalam keadaan miskin.

Seluruh hasil rampokan Pitung diserahkan untuk kepentingan perjuangan. Bukan dibagi-bagikan langsung kepada rakyat kecil sebagaimana selama ini didongengkan. Karena itulah Pitung amat sulit ditangkap karena jaringannya amat luas. Bahkan salah seorang calon korbannya, Haji Safiudin kampung Marunda, akhirnya menjadi mitranya. Pitung seringkali berkunjung ke rumah Haji Safiudin di Marunda yang kemudian terkenal sebagai rumah si Pitung.

Karena seringnya Pitung berkunjung ke Marunda, akhirnya tercium mata-mata Belanda. Route Pitung dilacak. Pitung selalunya muncul dari Pondok Kopi, Jakarta Timur, jika hendak ke Marunda. Pada suatu petang Schout Hijne dengan kekuatan satu regu pasukan polisi bersenjata lengkap menanti Pitung di Pondok Kopi. Tak ayal lagi begitu hari mulai gelap Pitung muncul. Ia dihujani peluru. Pitung rebah, tapi tak langsung tewas. Ia dibawa dengan mobil ambulans yang sudah disiapkan ke rumah sakit militer, kini RSPAD, di Jl Raya Senen, Jakarta Pusat.

Menurut laporan Margriet van Teel, sepanjang perjalanan Pitung terus menerus menyanyikan lagu Nina Bobo, sehingga ditegur Schout Hijne apa kiranya permintaan Pitung terakhir karena tampaknya ajal hendak menjemput. Pitung mengatakan ia minta dibelikan tuak, air nira, dengan es. Permintaannya dikabulkan. Segelas air nira sejuk diminumnya, belumlah kering gelas itu Pitung berpulang. Pitung mati muda dalam usia duapuluh delapan tahun. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak ada komentar: